oleh

Cara Kendalikan Marah Menurut Alquran dan Hadis

PortalMadura.Com – Islam merupakan agama yang selalu memberikan tuntunan, cara, dan larangan yang harus umat Muslim ikuti dan pahami. Segala macam persoalan, baik itu masalah-masalah besar maupun sepele tidak akan luput dari perhatian agama yang satu ini. Salah satunya seperti soal marah, sehingga Rasulullah memberikan resep meredam amarah. Beliau memang merupakan teladan kehidupan.

Nah dalam praktik kehidupan sehari-hari, umumnya masyarakat memaknai emosi dengan marah saja. Begitu ada orang marah maka ia disebut sedang emosi. Padahal, makna dari emosi itu cakupannya sangat luas. Semua perasaan yang menyebabkan perubahan fisik dapat dianggap sebagai emosi, seperti dilansir PortalMadura.Com, Selasa (15/10/2019) dari laman Okezone.com.

Untuk itu, marah hanya salah satu dari emosi dasar yang dialami oleh semua manusia, hanya cara marahnya bisa berbeda-beda pada setiap individu. Ada yang meletup-letup, agresif, melotot, menyumpah serapah, menggerutu, bahkan ada yang hanya diam meskipun sejatinya ia sedang marah besar.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam “Buku Fenomena Kejiwaan Manusia dalam Perspektif Alquran dan Sains” yang diterbitkan oleh Kemenag, menyebutkan bahwa ekspresi marah pada umumnya tergambar pada raut muka. Muka manusia diangggap sebagai cerminan totalitas dirinya. Marah adalah emosi yang paling dikenal oleh manusia, sehingga marah diidentikkan dengan emosi, persis seperti sebutan lampu merah untuk lampu pengatur lalu lintas, meskipun di sana ada lampu kuning dan hijau.

Saat emosi marah mulai memuncak seperti meledak-ledak, hal ini bisa merusak sistem saraf dan metabolisme tubuh. Selain itu, marah juga bisa menyebabkan jantung seseorang berdegup kencang, aliran darahnya meningkat dan kadang-kadang kacau, serta berbagai sistem dalam tubuhnya menjadi tidak stabil.

Karena kondisi seperti itulah, Rasulullah menyarankan kepada seseorang yang meminta nasihat kepada beliau untuk tidak gampang marah dalam situasi apapun. Kendati demikian, faktanya manusia tentu pernah mengalami marah, hanya saja tiap orang berbeda-beda dalam mengantisipasi, mengendalikan diri, dan melakukan resolusi atau recovery setelah marah besar.

Misalnya, ada orang yang bertipe eksplosif, di mana semua hal yang merintangi untuk mencapai harapannya akan dia hancurkan, bahkan sasaran lain terkait dengan rintangan itu. Seperti gelas yang dipakai minum kopi saat tiba-tiba amarahnya bangkit pun ikut dibanting bersama cairan kopi di dalamnya. Ini salah satu bentuk pelampiasan amarah yang meletup, yang dikenal dengan istilah katarsis.

Islam tentu melarang tindakan katarsis dengan cara eksplosif, apalagi sampai menyasar pada orang lain atau benda yang tidak ada kaitannya dengan sumber amarah. Rasulullah telah mengajarkan katarsis yang sangat halus, bila seseorang terbangkitkan emosi marahnya maka ia dianjurkan untuk mengubah posisinya.

Loading...

Apabila seseorang dalam keadaan berdiri terasa mau marah maka hendaklah ia mengubah posisinya dengan duduk, berbaring, atau pergi jalan-jalan. Kemudian kalau seseorang marah besar hendaknya yang lain diam.

Rasulullah berpesan: “jika seseorang di antara kamu marah dalam posisi berdiri maka hendaklah ia duduk. Jika dengan cara demikian amarahnya hilang, makan cukup lah. Namun, bila amarahnya belum mereda maka sebaiknya ia berbaring” (Riwayat Ah-mad dan Abu Dawud).

Jika kemudian ada yang perlu dijelaskan maka hal itu bisa dilakukan sesudah amarahnya mereda. Ada baiknya setiap individu menyadari bahwa amarah bersumber dari setan yang membawa malapetaka dalam kehidupan fisik dan psikis, sehingga perlu dihindari atau diredakan segera.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya emosi marah itu bersumber dari setan, dan setan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Karena itu, apabila seseorang marah maka hendaklah ia segera berwudu” (Riwayat Abū Dāwūd dari ‘Ațiyyah as-Sa’diy).

Dalam hadis lain, Rasulullah juga bersabda: “Ajarilah manusia kebaikan; hendaklah engkau mempermudah dan tidak mempersulit orang lain. Bila seseorang di antara kamu dilanda emosi marah maka hendaklah ia diam menahan diri” (Riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbas).

Dari cara-cara yang disebutkan dalam beberapa hadis di atas, maka seseorang yang dilanda marah harus: mengubah posisi saat marah, berwudu, dan semacamnya, yang merupakan bentuk relaksasi saraf dan otot yang tegang saat bangkitnya emosi. Tiap individu tentu harus belajar untuk mengendalikan emosi marahnya agar tidak merusak sistem kerja tubuh yang menuntut kestabilan.

Baca Juga: Inilah Keistimewaan Bisa Menahan Marah

Sedangkan menurut D. Goleman (1997: 88), pergi menyendiri merupakan salah satu relaksasi yang cukup efektif dilakukan saat adrenalin dalam tubuh melonjak.

Sementara menurut Hude, tentu akan lebih afdal jika relaksasi itu dibarengi sikap sabar dan salat yang khidmat, pelan, dan khusyuk (sudah termasuk di dalamnya wudu, gerakan relaksasi tubuh yang berpindah dari satu gerakan ke gerakan lain, dan zikir melalui bacaan-bacaannya, juga zikir sesudah salat), (hude, 2006:291).

Hal tersebut juga dijelaskan dalam Alquran untuk dijadikan medium pertolongan dari Allah. Allah SWT berfirman: ”Dan mohonlah pertolongan (kepada allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” ( QS. Al-Baqarah : 45). Wallahu A’lam.


Rewriter : Salimah
Sumber : okezone.com

Berita PortalMadura Aplikasi Android PortalMadura
Loading...

Komentar