oleh

Cara Sempurnakan Salat Seperti yang Diajarkan Rasulullah

PortalMadura.Com – Salat merupakan rukun Islam yang kedua. Dalam sehari semalam, ada lima waktu yang wajib dikerjakan umat Muslim, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Untuk itu, diperlukan kekhusyukan dalam mengerjakan ibadah yang satu ini agar bisa mendapatkan pahala. Sebab, salat yang tidak sempurna ibarat seorang pencuri yang paling buruk.

Sebagaimana dikisahkan dari Al Hasan, Rasulullah bersabda: ‘‘Maukah kamu aku beri tahu tentang seburuk-buruknya pencuri?” Para sahabat bertanya, ”Siapakah dia, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, ”Orang yang mencuri dari salatnya.” Sahabat bertanya, ”Bagaimana seseorang mencuri dari salatnya?” Beliau bersabda, ”Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya”.

Dikutip PortalMadura.Com, Senin (16/9/2019), pada laman Republika.co.id, dalam kisah lain, bahwa Rasulullah pernah menyuruh orang yang telah melakukan salat untuk mengulangi salatnya hingga tiga kali. Mengapa demikian?. Sebab ketika salat, orang tersebut belum menyempurnakan wudunya, takbirnya, berdirinya, bacaannya, rukuknya, sujudnya, dan thuma’ninah-nya. Rasulullah menjelaskan cara yang benar dalam melakukannya sebanyak empat kali hingga selesai.

Setelah itu Rasulullah bersabda: ”Salatnya seseorang di antara kamu tidak akan sempurna sebelum mengerjakan yang demikian itu”.

Pasalnya, saat salat tidak hanya sekadar mengerjakannya saja, dibutuhkan tata cara yang benar untuk bisa mencapai taraf kesempurnaan. Yang dimaksud kesempurnaan di sini bukanlah bentuk dari pemaksaan, namun agar jiwa salat bisa terserap dan tertanam dengan baik untuk membentuk karakter terpuji dan menghasilkan kemaslahatan, keberkahan, serta perbaikan diri.

Loading...

Baca Juga: Umat Islam, Ini 9 Cara Agar Anda Bisa Rajin Salat

Adapun cara menyempurnakan salat itu adalah diawali dengan menyempurnakan wudu terlebih dahulu, lalu menyempurnakan semua rangkaian gerakan dalam salat. Gerakan salat memang begitu ringan dan mudah, tapi jika gerakannya tidak disesuaikan dengan contoh dan petunjuk Rasulullah, maka gerakan tersebut hanya menjadi gerakan tidak beraturan tanpa makna dan tidak akan mendapatkan pahala. Salat yang dikerjakan pun tentu akan sia-sia.

Perlu diketahui, bahwa wudu memiliki makna membersihkan karakter buruk dan dosa. Saat menghadap kiblat, menghadapkan jiwa sepenuh hati dengan khusyuk dan merendahkan diri. Sementara setiap gerakan salat memiliki jiwa, peran, dan makna tersendiri yang akan memantulkan kekuatan positif dan konstruktif. Ia merupakan sebuah irama kesatuan yang saling menopang dan menyempurnakan gerakan berikutnya.

Sedangkan takbiratul ihram, membesarkan Zat Allah. Ketika membaca surah dengan menghayati dan berkeinginan untuk mengamalkannya. Rukuk dan sujud, bentuk perwujudan ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan diri total kepada Zat Yang Maha Agung.

Nah, ketika gerakan raga dan jiwa salatnya sudah terbiasa, terpola, dan seirama dengan yang dicontohkan Rasulullah, maka umat Islam akan terbiasa pula mengikuti gerakan dan pola hidup yang dicontohkan Rasulullah. Kepatuhan di luar salat berbanding lurus dengan kepatuhannya di dalam salat. Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : republika.co.id
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE