oleh

Covid-19, Begini Penjelasan Pembina Ponpes Babussalam & Guru Besar UI

PortalMadura.Com, Bangkalan – Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia yang mengalami peningkatan cukup signifikan perlu mendapatkan perhatian serius.

Terhitung hanya selama sekitar dua pekan sudah 172 kasus virus corona ditemukan hingga hari ini, Selasa (17/3/2020), termasuk Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.

Lima di antaranya meninggal dunia.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. H. Maksum Radji, M.Biomed, Apt menerangkan, Covid-19 merupakan strain virus baru yang termasuk dalam golongan Coronavirus.

“Corona itu virus lama, sudah sejak 1960-an, tapi mereka berevolusi, muncul beberapa strain baru Coronavirus. Salah satunya covid-19 yang sedang gempar ini,” ujarnya pada Selasa (17/3/2020).

Pria yang juga menjadi Pembina Pondok Babussalam Socah, Bangkalan ini mengatakan, gejala penyakit yang ditimbulkan oleh Covid-19 bisa berupa gelala ringan hingga berat.

Baca Juga: RSUD Bangkalan Tiadakan Jam Besuk Pasien

“Mulai demam tinggi, batuk, hingga kesulitan bernapas, bahkan bisa menyebabkan sakit parah berujung kematian,” urainya.

“Tapi,” lanjut Maksum, “faktor risiko tingkat keparahan Covid-19 ini belum diketahui dengan jelas,” imbuhnya.

Hasil analisa Maksum, orang berusia lanjut dan orang dengan kondisi medis kronis (misalnya penyakit jantung, paru-paru, atau diabetes, dsb) memiliki risiko lebih tinggi dan mengalami komplikasi yang serius jika sampai terinfeksi Covid-19.

Terkait penularan Covid-19, ia menjelaskan, Covid-19 menular dari orang ke orang melalui sentuhan erat satu sama lain, droplets (percikan air liur), dan semacamnya.

“Inkubasinya sekitar 2-14 hari, baru muncul gejala penyakit, mulai yang ringan hingga yang berat,” tegas pria yang menempuh studi doktoralnya di Jepang.

Maksum juga berbicara terkait dengan upaya pencegahan penyebaran Covid-19, di antaranya menjaga kebersihan anggota tubuh dan social distancing, yaitu tidak mendatangi tempat-tempat keramaian serta menjaga jarak dengan orang lain, dianjurkan untuk tidak melakukan jabat tangan atau berpelukan saat bertemu.

“Sering cuci tangan dengan antiseptik dan social distancing,” terangnya.

Maksum mengatakan, belum ada obat ataupun vaksin yang bisa menyembuhkan Covid-19, sehingga upaya-upaya preventif harus dilakukan.

“Vaksin dan obat belum ada, masih dikembangkan di beberapa negara. Tapi, ada beberapa bukti bahwa obat tertentu punya potensi untuk mencegah penyakit atau mengobati gejala Covid-19, tentu butuh waktu,” tandas peraih penghargaan Satyalancana Karya Sapta itu.

Menurut Maksum, yang mengacu pada artikel tulisan Daniel Yetman pada 12 Maret 2020, beberapa obat yang tengah diteliti itu adalah remdesivir, chloroquine, lopinavir dan Ritonavir, APN01, serta favilavir.

Terakhir, pria kelahiran Bangkalan tahun 1950 itu berpesan agar masyarakat tidak panik berlebihan dan tetap senantiasa berikhtiar yang terbaik untuk dapat keluar dari permasalahan wabah Covid-19 ini.

“Mari berikhtiar, meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makanan yang bernutrisi, tetap sabar dan tawakal. Mari bersama mendukung program pemerintah untuk menanggulangi wabah Covid-19, sering cuci tangan, pakai masker, dan melakukan social distancing,” pungkasnya.(*)

Penulis : Ubay Nizar Al Banna
Editor : Nurul Hijriyah
Tirto.ID
Loading...

Komentar