oleh

Dari Pamekasan Madura Hingga ke Jerman

“All your dreams can come true if you have the courage to pursue them. Walt Disney“.

JERMAN (PortalMadura) – Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Madura, Jawa Timur, sebenarnya tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Bahkan, bisa sejajar dengan SDM disejumlah negara di dunia. Namun, potensi itu ibaratnya belum muncul kepermukaan, ‘mungkin’ masih menunggu saat yang tepat.

Salah satu SDM Madura yang sudah sejajar, bahkan melebihi dari ratusan atau jutaan SDM di tanah air, yakni Budy Sugandi. Dalam rilisnya yang diterima Redaksi PortalMadura, Kamis (27/2/2014) malam, banyak cerita yang akan melahirkan inspirasi baru. Bagaimana dia berangkat dari kota berteman Pamekasan hingga sampai ke negara Jerman.

Di tahun 2006, yakni setelah lulus dari MAN Pamekasan, ia sangat bersyukur karena diterima di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan mengambil Fakultas Sains dan Teknologi, Prodi Pendidikan Matematika melalui jalur PBUCM (Penerimaan Bibit Unggul Calon Mahasiswa)-sejenis PMDK.

Perkuliahan di tahun-tahun awal, terasa cukup berat baginyaa, karena saat itu kota Jogja baru saja mengalami gempa dahsyat yang meluluh lantahkan banyak bangunan termasuk beberapa gedung UIN Sunan Kalijaga. Akhirnya perkuliahan untuk Fakultas Saintek, harus dipindahkan ke Hotel UIN Sunan Kalijaga di daerah Maguwoharjo, dekat Bandar Udara Adi Sucipto.

Dengan alasan keterbatasan ekonomi orang tuanya, maka ia memilih untuk tinggal satu kost berukuran 3×4 meter bersama kakak kandungnya yang saat itu sedang menyelesaikan skripsi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Jarak antara kost dan kampus sementara yang lumayan jauh tersebut, ia memaksa untuk menggayuh sepeda ontel, karena ongkos naik angkutan umum terasa memberatkan (saat itu ongkos angkot PP Rp. 4.000,-).

Ia sering berangkat lebih awal sebelum perkuliahan dan terlebih dahulu mampir ke masjid untuk beribadah dan sekedar mendinginkan keringat. Jujur, ia terkadang hatinya merasa ‘terpukul’ ketika di jalan raya melihat banyak temannya dengan nikmat melaju menggunakan sepeda motor, apalagi saat panasnya terik matahari di siang hari yang seakan-akan membakar kulit. Namun ada sesuatu bisikan dalam hatinya yang selalu diyakini bahwa “Roda nasib pasti berputar, asal kita mau menggayuhnya,”

Menurut dia, semakin kencang menggayuh, semakin kencang pula roda nasib tersebut berputar, seperti halnya dengan roda sepeda yang ia bawah setiap hari. Motivasi seperti inilah yang selalu membuatnya tak pernah lelah dalam mengejar mimpi.

Setelah lulus dari UIN Sunan Kalijaga, yakni pada bulan Desember tahun 2010, ia mencoba beberapa kesempatan beasiswa, baik di dalam maupun luar negeri. Informasi-informasi mengenai beasiswa tersebut, ia dapatkan dari laman web, millist, info dari dosen, info di papan pengumuman dan dari temannya.

Saat ini, informasi-informasi seperti itu sangat mudah didapatkan baik dari grup-grup facebook atau menuliskan hashtag #beasiswa #scholarship di Twitter, maka cukup menunggu sekejap mata informasi tersebut memenuhi layar laptop atau dalam istilahnya “Kalo zaman dulu kita mencari beasiswa, tapi saat ini beasiswalah yang mengejar-ngejar kita. Jadi sekarang tergantung dari kita sendiri yang mau memperjuangkannya atau tidak,” ujarnya.

Dengan bekal ilmu selama studi di UIN Sunan Kalijaga dan aktif dalam kegiatan kampus diantaranya, menjadi Asistensi Dosen beberapa mata kuliah dan praktikum, mengurus kelompok bahasa Arab, bernama MAJLUGHA (Ketua), aktif di UKM Karate INKAI (Atlit, MPA, Pelatih), juga mengikuti kegiatan di luar kampus seperti kelompok kreatif Mahasiswa se-Jogja yang bernama Sourch of Inspiration Club (Koordinator kampus UIN), aktifitas kemasyarakatan di daerah tempat tinggalnya serta pengalaman bekerja di bimbingan belajar (tentor), Gadjah Mada Mengajar (Volunteer), Taman Pintar (Volunteer), berjualan kue lebaran, dan seabrek pengalaman lainnya.

Maka, dengan bekal pengalaman tersebut, serta do’a dari orang tuanya dan bantuan orang-orang sekitarnya,  maka ia berani bersaing dengan Mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk meraih beasiswa Pemerintah Turki dan puji syukur alhamdulillah, ia diterima sebagai salah satu penerima beasiswa Master of Mathematics and Science Educationdi Marmara University, Istanbul.

Yakni, salah satu kampus terbaik yang ada di Turki. Meskipun beasiswa Pemerintah Turki relatif tidak terlalu besar, apalagi bagi kuliah di kota Istanbul yang notabanenya merupakan kota termahal di Turki, namun ia beruntung ada perhatian yang tinggi dari Pemerintah RI, salah satunya melalui Beasiswa Unggulan (BU) dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kemedikbud RI yang sangat konsen pada usaha peningkatan kualitas SDM Indonesia, sesuai dengan tujuannya yaitu untuk meningkatan kemampuan dan kompetensi sumber daya manusia Indonesia yang mendukung percepatan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah mengikuti kelas persiapan bahasa Turki dan menjalani perkuliahan selama dua semester, ia kembali mendapatkan kepercayaan kembali. Kali ini, dari Marmara University untuk terbang ke Technische Universitat Braunschweig (TU Braunschweig), di kota Braunschweig, Germany dalam program exchange students selama satu semester (Oktober 2013-Maret 2014).

Saat pertama kali terbang ke Jerman, ia mengaku teringat dengan kota asalnya yaitu Pamekasan. Salah satu kota yang ada di Pulau Madura, Jawa Timur, salah satu kota dimana ia menamatkan SD hingga SLTA. Kota dimana ia menghabiskan masa kecilnya hingga remaja, dan kota dimana ia belajar banyak tentang kehidupan.

Sungguh tidak terbayang sebelumnya hingga akhirnya benar-benar pergi ke negara Jerman untuk menggapai cita-cita.

Braunschweig merupakan salah satu kota di negara bagian Niedersachsen (Jerman adalah negara federasi yang terdiri dari 16 negara bagian), kota ini merupakan kota terluas kedua setelah Ibu kota Negara bagian yaitu Hannover. TU Braunschweig merupakan kampus teknik tertua di Jerman yang didirikan pada tahun 1745 dan masuk dalam TU9 yang merupakan suatu asosiasi sembilan Universitas Teknik terbaik di Jerman serta masuk kategori sepuluh universitas terbaik di Jerman dalam bidang Research.

Keberadaan dia di TU Braunschweig dalam rangka melakukan penelitian thesis dan mengikuti beberapa kursus, seperti kursus bahasa Jerman, Developing english writing skill for research serta mengikuti beberapa aktivitas extra campus bersama mahasiswa internasional lainnya.

Bagi dia, hanya terus berusaha mengembangkan kemampuan diri mutlak dilakukan, sebab bagi para Cendikiawan salah satunya dengan menempuh studi di luar negeri. Kuliah di luar negeri memberikan pengalaman baru dan banyak manfaat dalam hidup ini.

Dia mengutip dari Albert Einstein “Somewhere, Something Incredible is Waiting to be Known,”. Kita akan berinteraksi dengan budaya akademik yang berbeda, bertemu dengan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia serta memperkaya perspektif dan pola pikir.

Untuk itu, dia menyampaikan, melalui cerita singkat soal pengalamannya, bahwa mahasiswa asal Indonesia tidak boleh pesimis, jika mau memperjuangkan, maka pasti akan mampu bersaing dengan mahasiswa dari Universitas lain, baik di tingkat Asia bahkan Internasional, seperti halnya makna dari kalimat bijak di atas yang ia pilih untuk mengawali tulisan ini yaitu “semua impian kita pasti akan terwujud, jika kita mau memperjuangkan impian-impian tersebut,”.

Yang terakhir dia mengaku tidak ada maksud untuk membanggakan diri dalam oretan kecil perjalanan seorang Budy Sugandi. Karena hanyalah senoktah tinta dan ia yakin masih banyak dari Mahasiswa lainnya yang lebih berprestasi, lebih melanglang buana, bahkan telah berkontribusi secara nyata untuk tanah air tercinta. Untuk itu, ia juga berharap suatu hari nanti, bisa sambil minum kopi hangat untuk membaca atau mendengarkan pengalaman dari sahabat-sahabat yang lain.

Braunschweig, 14 Februari 2014

(Budy Sugandi) : Salah satu kandidat Penerima Beasiswa Unggulan (BU) BPKLN Kemdiknas RI Master of Science and Mathematics Education Marmara Üniversitesi-Turkey.

-
-
Tirto.ID
Loading...

Komentar