oleh

Deny Ingatkan Lembaga Survey Untuk Tidak Terjebak Pelacuran Intelektual

PortalMadura.Com, Bangkalan – Dr. Deny SB Yuherawan, Dekan Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura (FH UTM) ingatkan Lembaga-lembaga survey saat ini tidak terjebak pada praktek pelacuran intelektual.

Berbedanya hasil quick count (hitung cepat) dari 7 lembaga survey yang memenangkan pasangan Capres/ Cawapres nomor urut 2 dan 4 lembaga survey yang memenangkan pasangan Capres/ Cawapres nomor urut 1, sangat meresahkan Dekan  FH UTM ini.

“Saya melihat kecenderungan bahwa lembaga-lembaga survey sudah menjadi lembaga survey abal-abal,” sesal Deny.  “Kalau lembaganya sih secara hukum, legal. Namun prakteknya tidak lebih dari sebuah lembaga abal-abal yang bergerak berdasarkan pesanan dari pihak-pihak tertentu,” tukasnya.

Praktek ini tanpa disadari mereka (lembaga survey red.) berdampak sistemik pada masyarakat kelas grass root. “Pembentukan opini akibat praktek pelacuran intelektual seperti ini sama saja dengan pemaksaan kehendak dengan upaya meng-hegemoni pemikiran masyarakat atas nama hasil quick count yang menurut mereka bisa dipertanggung-jawabkan,” ulas Deny, Sabtu (12/7/2014).

Deny berharap agar para intelektual yang ada dalam Lembaga-lembaga Survey tersebut berdiri pada sebuah fundamental profesionalisme intelktual berdasarkan disiplin ilmu masing-masing.  “Jangan terjebak pada praktek jual beli dagang sapi dalam persoalan yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bertanah air ini,” pintanya. “Toh, dengan sikap profesional intelektual, mereka masih laku kok,” selorohnya.

“Justru saat lembaga-lembaga ini bersikap obyektif, maka mereka akan kebanjiran job dari banyak lembaga swasta maupun pemerintah untuk melakukan sebuah penelitian terhadap subyek permasalahan tertentu,” ujarnya.

Deny yang juga Ketua Presidium Kahmi Bangkalan ini, berharap agar semua pihak menahan diri dulu hingga tanggal 22 Juli 2014. “Tunggu sampai penghitungan resmi atau real count yang dilakukan oleh KPU nanti,” harapnya.

Namun, Deny berkeyakinan bahwa Pemilu Presiden tahun ini akan berlangsung damai. “Kita punya sejarah panjang  dalam melaksanakan Pemilu Damai sejak 1956 hingga 2009 lalu.  Namun kita sering gagal dalam melaksanakan Pemilu jujur,” pungkasnya.(dit/nia)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.