oleh

Di Atas Bukit Sergang, Ada Asta Bergelar Raden, Tumenggung, Resi hingga Empu

PortalMadura.Com, Sumenep – Bukit Dusun Lebbak, Desa Sergang, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kini mulai ramai dikunjungi warga.

Mereka melakukan ziarah ke asta yang diyakini sebagai makam (kuburan) para waliyullah (Wali Allah). Batu nisannya terbuat dari batu kumbung berukuran besar.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Penataan batu nisan sangat rapi dan terdapat ukiran. Umumnya, bentuk kepala dan motif ukiran pada batu nisan dipakai para bangsawan (keturunan raja) dan penyebar agama Islam.

IMG 20210904 091318

Ada tiga lokasi asta di bukit Desa Sergang tersebut yang hanya dibatasi dengan tembok batu kumbung tersusun rapi. Struktur batunya mirip dengan batu nisan.

Jumlah asta atau makam cukup banyak (puluhan). Hanya di dalam tembok pembatas paling timur terdapat tiga batu nisan yang disebut-sebut oleh warga adalah yang tertua.

IMG 20210904 091816
Pembatas/ tembok Asta Desa Sergang (@portalmadura.com)

Saat PortalMaduraTV (grup PortalMadura.Com) berkunjung, Jumat (3/9/2021) siang, terdapat nama-nama yang ditancapkan di sejumlah batu nisan tersebut.

Dari yang bergelar Raden, Tumenggung, Resi, Syekh hingga Empu. Nama-nama tersebut baru dibuat oleh warga setelah mendapatkan dari seorang habib asal Banyuwangi, Jawa Timur.

Nama-nama itu, di antaranya Syekh Muhammad Ilyas, R. Arya Cakra Langit (cucu Raden Fatah), RA. Selendang Kencono Langit, Putri Tungga Dewi, Sultan Maulana, Tumenggung Suropati, Resi Bangah, Putri Lestari, Mahesa dan Empu Djoko Samudera (K. Bramana).

IMG 20210904 091338

Kepala Desa Sergang, Moh. Duki menjelaskan, pada batu nisan maupun tembok pembatas tidak ada tanda berupa angka atau huruf yang menunjukkan identitas atau tahun.

“Nama-nama itu dari seorang habib (hasil meditasi, red),” katanya pada PortalMaduraTV.

Asal Usul Asta Bukit Sergang (Asta Partelon)

Screenshot 2021 09 04 09 14 26 45 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817
Kepala Desa Sergang, Moh. Duki

Kepala Desa Sergang, Moh. Duki menjelaskan, keberadaan asta bukan baru ditemukan.

Pemilik lahan dan warga sekitar, kata dia, sudah tahu secara turun temurun. Hanya saja belum terurus dengan baik.

“Dan kondisi batu nisan dan lainnya tetap tidak ada perubahan sedikit pun sejak dulu,” katanya.

Warga setempat menyebut ‘Asta’ dan tidak ada penyebutan nama lain (nama orang). Lokasinya dekat dengan simpang tiga Desa Sergang (Asta Partelon/ Asta simpang tiga).

Duki sapaan akrab Moh. Duki bersama perangkat desa setempat baru merasa terketuk untuk memasang listrik saat ada warga yang datang untuk ziarah.

“Melalui musyawarah bersama warga dan perangkat desa, disepakati untuk dibersihkan serta pengadaan air dan listrik. Alhamdulillah, listrik dan air sudah ada,” ujarnya.

Pembersihan lokasi asta sudah berlangsung 20 hari. Warga sekitar kompak bergotong-royong. Dan masyarakat yang akan berziarah juga mulai ramai.

Rencana pemerintahan Desa Sergang akan melengkapi fasilitas untuk kebutuhan pengunjung. Salah satunya, pembangun musala dan MCK.

“Musala dan MCK sudah siap untuk dibangun,” ujarnya.

Pihaknya berharap, bagi pengunjung atau yang hendak melakukan ziarah agar tidak melakukan hal-hal yang negatif atau perbuatan menyimpang.

“Silakan ziarah, jaga kesopanan dan tidak dipungut biaya apapun,” tandasnya.

 

 

Lokasi Asta Partelon Sergang

Jika ditempuh dari simpang tiga Pasar Barisan, Kecamatan Manding;

lurus ke utara hingga terlihat pantai utara Desa Sergang.

Sebelum simpang tiga, di kanan jalan ada bukit dengan pepohonan jati. Pintu masuk kanan jalan ditandai dengan umbul-umbul dan bendera.

Jalan pintu masuk belum aspal atau masih pengerasan.(*)

Tonton juga video Asta Waliyullah Desa Sergang

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar