Di Bulan Pertama, Ini 5 Kegalauan Orang Tua Baru yang Perlu Diwaspadai

Avatar of PortalMadura.com
Di Bulan Pertama, Ini 5 Kegalauan Orang Tua Baru yang Perlu Diwaspadai
ilustrasi

PortalMadura.Com – Pasangan suami istri yang baru dikaruniai seorang anak membutuhkan adaptasi yang cukup lama. Karena, selain perasaan bahagia, bangga dan terharu telah memiliki keturunan, ada perasaan lain yang mengganggu kehidupannya.

Misalnya, rasa khawatir tentang bagaimana merawat dan mendidik anak sampai besar, yang mana tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi perselisihan pendapat dengan keluarga baru atau mertua di rumah.

Baca Juga

baru itu juga disampaikan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid, yang mengatakan bahwa sekurangnya ada 5 gangguan yang akan dilalui pasangan yang baru menikmati jadi orang tua.

Apa saja?. Berikut daftarnya:

Baby Blues
Ini merupakan gangguan suasana hati (mood) yang paling sering dialami oleh , khususnya ibu. Salah satu studi menyebutkan bahwa lebih dari 50 persen ibu yang baru saja melahirkan pernah merasakan baby blues.

Hal ini ditandai dengan perasaan sedih dan lelah yang sulit dijelaskan penyebabnya. Kondisi ini juga membuat ibu menjadi lebih sensitif dan mudah marah.

Salah satu penyebab baby blues adalah karena ibu masih belum siap mental menjalani perannya yang baru. Anda yang mungkin sebelumnya hanya merawat diri dan suami saja, sekarang juga harus bertanggung jawab penuh dalam mengasuh dan merawat bayi.

Meski baby blues lebih sering dialami ibu, ada juga Ayah yang mengalaminya. Gangguan ini biasanya terjadi pada 1-2 minggu pertama setelah kelahiran si buah hati.

Depresi Postpartum
Bila baby blues tidak teratasi, gangguan lebih berat yang bisa terjadi selanjutnya adalah depresi postpartum. Selain terlihat sedih, pada kondisi ini ibu juga enggan melakukan aktivitas sehari-hari, terlihat sangat lelah, dan tidak ingin merawat bayinya.

Sebagian ibu yang mengalami depresi postpartum memilih untuk mengurung diri di kamar dan tidak ingin melihat bayinya. Bila depresi yang dialami cukup berat, kadang timbul keinginan ibu untuk bunuh diri. Gangguan ini berlangsung setidaknya selama 2 minggu. Bila dibiarkan, bisa terjadi hingga berbulan-bulan.

Psikosis Postpartum
Gangguan kejiwaan setelah melahirkan yang ditandai dengan adanya waham atau halusinasi. Waham merupakan suatu keyakinan yang salah, tetapi benar-benar dihayati oleh penderitanya.

Misalnya, ibu meyakini kalau anaknya adalah jelmaan iblis, sehingga ia ingin membunuh anaknya.

Sementara itu, halusinasi merupakan persepsi palsu dari panca indera. Misalnya ibu mendengar suara-suara yang membisikinya, padahal sebenarnya tidak ada orang yang berbisik. Kondisi ini berbahaya dan butuh penanganan segera oleh psikiater.

Gangguan Cemas
Hak ini bisa dialami oleh orang tua baru menjelang bayinya akan lahir. Secara normal memang bisa terjadi rasa cemas dalam menyambut dan merawat bayi. Namun yang dimaksud gangguan cemas adalah kecemasan berlebihan dan tidak rasional yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Kecemasan ini terkait masalah proses persalinan, cara membesarkan bayi, cara menyusui, dan masih banyak lagi. Rasa cemas berlebihan ini menimbulkan keluhan berdebar-debar, pegal dan kaku di tengkuk, sulit tidur, dan gangguan dalam berkonsentrasi.

Stres Pasca Trauma
Bila proses persalinan berjalan sulit dan tidak sesuai yang direncanakan, misalnya saja ibu merasakan sakit perut tidak tertahankan dalam waktu yang sangat lama atau proses persalinan harus dibantu alat bantu yang besar (forsep), stres pasca trauma bisa terjadi.

Gangguan ini bisa terjadi bila proses persalinan dianggap sebagai sesuatu yang traumatis dan menakutkan bagi ibu. Gejalanya berupa terbayang-bayang terus dengan proses persalinan tersebut, mimpi buruk, rasa takut setiap kali melihat dokter atau rumah sakit, dan ibu terus berusaha menghindari kejadian atau benda yang dapat mengingatkannya akan kejadian persalinan yang lalu.

Namun, di balik kegalauan itu pasti akan selalu ada kebahagiaan. Segala bentuk adaptasi itu menjadi lika-liku seru yang harus dilewati para orang tua baru.

Jadi, Anda sebagai seseorang yang memiliki kewajiban dalam merawat anak, harus lebih sabar dan tenang sehingga kehidupan Anda dan keluarga berjalan normal. Semoga bermanfaat. (liputan6.com/Putri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.