Dosen Unija Tawarkan Sistem Pengelolaan Sampah Takakura

  • Bagikan
Dosen-Unija-Tawarkan-Sistem-pengelolaan-sampah-takakura
Proses pembuatan sampah organik dengan metode takakura (@portalmadura.com)

PortalMadura.Com, Sumenep – Keberadaan sampah di wilayah Kota Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang tidak terkelola dengan baik mendapat perhatian serius tiga orang dosen Universitas Wiraraja (Unija).

Melalui pengabdian kepada masyarakat (PKM), Jefri Nur Hidayat (Ketua Tim PKM) beranggotakan Ayu Fajarianingtyas dan Herowati, menawarkan sistem pengelolaan sampah Takakura.

Disebutkan, bahwa setiap harinya Sumenep memproduksi sampah sekitar 2 ton. Sebagian besar diproduksi oleh rumah tangga. Sedangkan penanganan dan pengelolaan pun masih terpusat pada tiga daerah, Kecamatan Kota, Kecamatan Batuan dan Kecamatan Kalianget dengan pola penanganan tradisional.

Tiga orang dosen Unija pada program studi pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menawarkan Sistem Pengelolaan Sampah Takakura tersebut bertajuk Tata Kelola Sampah dengan Tatakura untuk Menerapkan Konsep Sains dan Kehidupan.

“Takakura home method composting adalah sebuah metode pembuatan kompos yang ditujukan untuk mendaur-ulang sampah dapur. Metode kompos takakura ini pertama kali diperkenalkan di Surabaya pada tahun 2004 oleh seorang berkebangsaan Jepang bernama Mr. Takakura,” terang Jefri Nur Hidayat.

Maka pihaknya membuat pelatihan dan pembinaan pengelolaan sampah organik rumah tangga sebagai upaya meminimalkan jumlah sampah di Sumenep. Pertama diperlukan pendidikan tata kelola sampah guna mengubah budaya masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Sasaran pendidikan pengelolaan sampah tersebut, Tim PKM mengambil sample Rumah Belajar Kreatif yang berlokasi di Jalan Seludang Gg. II No. 25b, Pajagalan Kota Sumenep, Jatim.

Dari survei awal yang dilakukan Tim PKM, kelompok sasaran tersebut belum menerima pendidikan tata kelola sampah dan tidak adanya keterampilan anak didik dalam upaya pemanfaatan sampah.

Ia menjelaskan, sistem pengelolaan sampah takakura dari sebuah penelitian pengomposan daun dengan aktivator EM4 (Effective Mikroorganism 4) menunjukkan bahwa tekstur, warna dan bau kompos yang dihasilkan telah memenuhi kriteria kompos berdasarkan standar SNI No. 19-7030-2004. Kompos pada komposisi 75% tanah + 25% kompos takakura dapat mempercepat 3,9 cm pertumbuhan batang tanaman.

“Dan kompos yang dihasilkan itu telah dibuat untuk tanaman cabai yang sedang dibudidayakan oleh masyarakat,” terangnya.

Pengelolaan Sampah Takakura

Pada kegiatan Tim PKM yang dinahkodai Jefri Nur Hidayat, terlebih dahulu dipersiapkan keranjang yang berlubang-lubang kecil di tempat teduh, tidak kena hujan atau sinar matahari langsung serta memiliki sirkulasi udara yang bagus.

Kemudian, letakkan bantal sekam di dasar keranjang yang berfungsi untuk menyerap air, mengurangi bau dan mengontrol udara agar mikroba berkembang dengan baik. Lapisi keranjang bagian dalam dengan kardus, ikat dengan tali dan keranjang diisi dengan starter/kompos jadi, kurang lebih setebal 5 cm (8 Kg).

“Kompos berfungsi sebagai starter proses pengomposan karena di dalamnya terkandung mikroba pengurai,” terang Jefri Nur Hidayat.

Masukkan sampah ke dalam keranjang takakura. Sampah sebelum dimasukkan ke keranjang harus dipotong kecil-kecil ukuran 2 cm x 2 cm. Tulang ikan dipotong kecil- kecil, tulang ayam dihancurkan.

“Semakin kecil ukuran akan semakin cepat terurai. setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan sampah yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian seterusnya,” katanya mengingatkan.

Kemudian, aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan. Hati-hati dalam mengaduk agar tidak merobek kardus. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan EM4/ air bekas cucian beras/ kompos jadi, secukupnya,” terangnya.

Untuk memudahkan dan menghemat penggunaan EM4, masukkan EM4 dicampur air 1:5 atau 1:10 kedalam alat penyemprot/ sprayer. Semprotkan secukupnya (tidak kering ataupun terlalu basah) campuran tersebut setiap kali akan mengaduk sampah yang baru dimasukan.

Jika terlalu basah, kata dia, tambahkan sekam atau serbuk kayu gergajian. Agar kompos beraroma jeruk, tambahkan kulit jeruk ke dalam keranjang. Masukan bantal sekam dan kemudian tutupi mulut keranjang dengan kain. Kemudian tutuplah keranjang rapat-rapat agar serangga dan lalat tidak masuk.

Keranjang tidak harus diisi langsung penuh, masukkan sampah organik seadanya. Lakukan secara rutin setiap hari sampai keranjang penuh. Sampah yang baru dimasukkan akan difermentasi dalam 1-2 hari.

“Untuk memastikan proses pengomposan berjalan, letakkan tangan kita 2 cm dari kompos. Bila terasa hangat, dapat dipastikan proses pengomposan bekerja dengan baik. Jika tidak, percikkan sedikit air untuk memicu mikroorganisme bekerja. Bisa jadi kompos terlalu kering sehingga memerlukan air,” urainya.

Lakukan kegiatan tersebut berulang- ulang selama 40-60 hari. Bahan yang telah menjadi kompos akan berwarna hitam, tidak berbau dan tidak becek. “Jangan lupa, setelah membuat kompos, cuci tangan pakai sabun daun kelor,” terangnya.

Gambaran teknologi dan susunan komponen takakura seperti gambar berikut;

Dosen Unija Tawarkan Sistem Pengelolaan Sampah Takakura
Susunan komponen takakura (Ist)

Kegiatan Tim PKM oleh tiga dosen Unija tersebut dilakukan sejak Juni hingga Oktober 2021 dan hasil edukasi serta pelatihan pengelolaan sampah takakura berdampak positif pada pengelolaan sampah di lokasi sasaran.(*)

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.