PortalMadura.com– Harga emas dunia mencatat rekor historis dengan menembus level US$5.000 per ons pada perdagangan Senin (26/1/2026). Emas spot naik 0,94% menjadi US$5.029,62 per ons, sementara kontrak berjangka Februari menguat 1,02% ke US$5.029,70 per ons. Lonjakan ini memicu spekulasi bahwa harga bisa melonjak jauh lebih tinggi—bahkan hingga US$10.000.
Kenaikan tajam tersebut bukan tanpa alasan. Para analis menyebut kombinasi ketegangan geopolitik global, kebijakan moneter longgar di Amerika Serikat, pembelian agresif oleh bank sentral, serta arus masuk ke dana ETF emas sebagai pendorong utama.
“Perkiraan kami untuk 2026 adalah rata-rata harga emas di US$5.375, dengan potensi mencapai US$6.400 per ons,” kata analis independen Ross Norman, dikutip dari *Reuters*.
Namun, proyeksi paling ekstrem datang dari Saxo Bank dalam laporan tahunannya “Outrageous Predictions 2026”. Bank investasi Denmark itu mengemukakan skenario “Q-Day”—hari di mana komputasi kuantum mampu meretas sistem enkripsi digital global. Jika terjadi, kepercayaan terhadap aset digital dan sistem perbankan konvensional bisa runtuh, sehingga emas akan menjadi satu-satunya aset aman tanpa risiko digital.
Dalam skenario tersebut, harga emas diproyeksikan melesat hingga **US$10.000 per ons**.
“Saat ini, kita melihat banyak uang strategis dan taktis mengalir ke emas,” ungkap Robin Tsui, ahli strategi emas Asia Pasifik di State Street Investment Management, seperti dilansir *Channel News Asia*. “Geopolitik yang memanas telah memicu kekhawatiran global. Emas selalu unggul sebagai lindung nilai saat mata uang dan aset berisiko goyah.”
Beberapa isu geopolitik yang memperkeruh pasar antara lain:
– Gagalnya pembicaraan damai Rusia-Ukraina di Abu Dhabi,
– Serangan udara Rusia yang memutus listrik bagi lebih dari satu juta warga Ukraina di tengah musim dingin,
– Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif 100% terhadap Kanada jika negara itu tetap berdagang dengan China.
Selain emas, logam mulia lain juga menguat. Harga perak spot naik 1,85% ke US$104,85 per ons—menjadi yang pertama kali menembus US$100—didorong permintaan ritel dan kelangkaan pasokan fisik. Sementara paladium naik tipis 0,22%, platinum turun 0,21%.
Dengan semua faktor ini, emas tidak hanya menjadi simbol kemewahan, tapi juga benteng finansial di tengah badai ketidakpastian global. Dan jika skenario terburuk benar-benar terjadi, logam kuning ini mungkin akan menjadi aset paling berharga di planet ini.





