oleh

Forum Alumni Jogja Desak Polisi Usut Kasus Pengepung Rumah Ibunda Mahfud MD

PortalMadura.Com, Pamekasan – Kasus pengepungan rumah ibunda Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) RI, Mahfud MD mendapat respon dari sejumlah kalangan. Termasuk Forum Alumni Jogja Pamekasan (FAJ-P) Madura, Jawa Timur.

Sekretaris FAJ-P, Badri Khumaini mengungkapkan, aksi pengepungan rumah ibunda Mahfud MD di Jalan Dirgahayu Kelurahan Bugih Pamekasan tidak mencerminkan perilaku dan etos masyarakat Madura yang menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Bagi masyarakat Madura, katanya, etika merupakan nilai tertinggi pada setiap manusia yang akan menjadi tolok ukur baik tidaknya sifat serta karakter seseorang. Masyarakat Madura memiliki falsafah luhur, yaitu Bapa’, Babu’, Guru, Rato (bapak, ibu, guru dan pemerintah). Artinya, empat orang tersebut harus dihormati.

Selain itu, masyarakat Madura juga diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda. Etika bergaul tersebut seharusnya tetap terjaga dengan baik.

“Sungguh ini menyalahi etika yang telah menjadi budaya luhur masyarakat Madura. Tidak etis jika melakukan intimidasi terhadap orang sepuh yang seharusnya dihormati, seperti ibunda Bapak Mahfud MD tersebut,” tegasnya, Jumat (4/12/2020).

Mantan aktivis PMII ini juga menambahkan, selain dari sisi akhlak, tindakan intimidasi dengan cara mendatangi rumah warga merupakan tindakan yang melanggar hukum. Apalagi, ibunda Mahfud MD yang menjadi sasaran massa tidak ada kaitannya dengan kebijakan jabatan yang diemban anaknya sebagai Menko Polhukam saat ini.

Pihaknya meminta polisi mengusut tuntas kasus intimidasi tersebut. Sebab, jika hal itu dibiarkan tentu akan merusak tatanan berbangsa dan bernegara yang telah ditanam sejak awal.

“Polda harus tegas mengusut kasus ini. Otak aksi ini harus ditangkap dan diadili. Sebab jika dibiarkan, ini akan menjadi pretensi buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Dia pun meminta kepada masyarakat agar tidak terprovokasi isu-isu agama yang sengaja disebar luaskan oleh kelompok tertentu demi mencapai ambisi politiknya.

“Umat Islam jangan mudah terprovokasi dengan isu-isu agama yang hanya dijadikan bungkus kepentingan kelompok tertentu,” tandasnya.

Lora Badri ini memungkasi, segala bentuk tindakan kesewenang-wenangan harus dibumi hanguskan dari bumi Indonesia. Bangsa Indonesia yang majemuk ini harus hidup rukun dan damai atas perbedaan, suku, RAS dan agama.

“Yang waras jangan diam. Segala bentuk kesewenang-wenangan, radikalisme agama, dan anarkhisme harus dilawan. Sebab jika tindakan mereka dibiarkan, kelompok kecil itu akan selalu merasa paling benar dan menganggap orang lain selalu salah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Rumah ibunda Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) RI, Mahfud MD di Jalan Dirgahayu Pamekasan, Madura, Jawa Timur, digeruduk massa, Selasa (1/12/2020) sore.

Massa yang sebagian besar berpakaian serba putih mengatasnamakan Gerakan Umat Islam Pamekasan. Saat tiba di tempat kejadian perkara (TKP), massa berteriak agar Mahfud MD keluar, namun teriakan itu tak ada respon. Setelah beberapa menit berada di lokasi, massa pun akhirnya membubarkan diri.

Simpatisan Front Pembela Islam (FPI) itu sebelumnya melakukan aksi demonstrasi ke Mapolres Pamekasan menyampaikan aspirasinya terkait penolakan atas pemanggilan Habib Rizieq Shihab dalam kasus kerumunan di Petamburan, Jakarta.

Mereka meminta agar aparat penegak hukum tidak tebang pilih dalam menegakkan keadilan. Sebab, mereka menganggap banyak kasus kerumunan lainnya yang tidak diproses hukum.

Penulis : Marzukiy
Editor : Desy Wulandari

Komentar