PortalMadura.com–Harga Bitcoin (BTC) melambat menjelang penutupan tahun 2025. Pada Rabu, 24 Desember 2025, harga aset kripto terbesar dunia itu tercatat di level $87.288 atau setara Rp1.469.269.690, mengalami penurunan 0,97% dalam 24 jam terakhir, menurut data dari Pintu Market.
Dalam periode yang sama, BTC menyentuh titik terendah di Rp1.462.942.990 dan tertinggi di Rp1.483.668.970. Meski volume perdagangan naik 19% menjadi Rp801,97 triliun, kapitalisasi pasar Bitcoin tetap stabil di sekitar Rp29.229 triliun.
Pergerakan harga kini menunjukkan fase konsolidasi, bukan tren naik kuat seperti yang sempat diharapkan pasar. Bitcoin gagal menembus level resistensi di $90.500–$95.000, yang sebelumnya menjadi target utama jelang akhir tahun.
Probabilitas Tembus $100 Ribu Hanya 7%
Keyakinan pasar terhadap potensi Bitcoin mencapai $100.000 sebelum 31 Desember 2025 terus melemah. Platform prediksi berbasis pasar, Polymarket, hanya memberi peluang 7% untuk skenario tersebut—angka yang mencerminkan pesimisme pelaku pasar.
Analis kripto Lenaert Snyder menegaskan bahwa struktur pasar saat ini lebih mendukung strategi berbasis rentang harga (range-bound) ketimbang spekulasi arah tunggal. Menurutnya, zona $85.900 merupakan area ideal untuk akumulasi jangka panjang.
“Ini bukan pesimisme, tapi disiplin teknikal,” ujarnya, menekankan pentingnya respons terhadap data alih-alih narasi optimistis.
Struktur Teknikal: Rentang Ketat, RSI Lemah
Pada grafik 4 jam, Bitcoin terlihat bergerak dalam rentang sempit antara $85.000–$95.000. Setiap upaya menembus batas atas gagal, sementara tekanan jual selalu diredam di $85.000–$86.000—menjadi zona dukungan kunci.
Indikator RSI (Relative Strength Index) berada di bawah 50, mengisyaratkan dominasi penjual dan minimnya momentum kenaikan. Kondisi ini memperkuat pola rotasional: harga naik-turun dalam koridor ketat tanpa arah jelas.
Untuk memicu tren bullish baru, Bitcoin harus menembus dan menutup di atas $95.000 secara meyakinkan—bukan sekadar sentuhan singkat.
Kuartal IV 2025 Jadi yang Terburuk Sejak 2018
Kinerja Bitcoin di kuartal keempat 2025 tercatat turun 22,5%, menjadi Q4 terlemah sejak 2018. Padahal, Q4 biasanya menjadi penutup kuat setelah reli panjang—seperti yang terjadi pasca-halving atau adopsi institusional.
Namun kali ini, pasar tampak kehabisan tenaga. “Ini bukan kerusakan struktur, tapi konsolidasi alami setelah kenaikan besar sebelumnya,” jelas pengamat pasar.
Dengan waktu tersisa hanya sepekan, peluang lonjakan signifikan menuju $100.000 kian tipis. Sebagian besar analis kini memproyeksikan potensi kenaikan besar akan bergeser ke awal 2026.
Simpulan: Fokus pada Konsolidasi, Bukan Euforia Akhir Tahun
Menjelang pergantian tahun, harga Bitcoin kemungkinan besar bertahan dalam rentang, dengan potensi uji ulang zona $85.000. Meski narasi $100.000 masih hidup, realitas pasar—didukung data probabilitas dan struktur teknikal—menunjukkan akhir 2025 bukan saat yang tepat untuk rally besar.
Bagi investor, momen ini justru bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan strategi awal 2026, ketika likuiditas kembali normal dan volatilitas meningkat pasca-libur.
Baca Juga:




