PortalMadura.com – Harga perak dunia menunjukkan pergerakan konsolidasi yang ketat pada akhir Mei 2026, meskipun masih berpeluang mencatatkan kenaikan positif secara bulanan.
Logam mulia ini terkoreksi tipis pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, namun tetap mempertahankan momentum penguatan yang signifikan sepanjang bulan.
Data perdagangan terbaru menunjukkan harga perak spot berada di level US$ 75,51 per ons pada 29 Mei 2026, mengalami penurunan sekitar 0,2% dari hari sebelumnya.
Sementara itu, harga penutupan perak pada akhir pekan yang sama mendarat di level US$ 75,25 per troy ons.
Secara lebih rinci, perak turun menjadi 75,24 USD per troy ounce pada 29 Mei 2026, mengalami penurunan 0,46% dari hari sebelumnya.
Di pasar domestik, harga perak dalam Rupiah Indonesia (IDR) pada 29 Mei 2026 pukul 21:10 UTC tercatat Rp 43.141 per gram, menunjukkan penurunan 0,70%.
Harga perak per ounce dalam IDR mencapai Rp 1.341.833, sementara per kilogramnya berada di Rp 43.140.923 pada tanggal yang sama.
Meskipun terjadi sedikit pelemahan di akhir pekan, kinerja perak dalam sebulan terakhir menunjukkan kenaikan impresif sebesar 2,19%.
Lebih jauh lagi, harga perak melonjak 128,08% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, mencerminkan daya tarik investasi yang kuat.
Selama pekan terakhir bulan Mei 2026, perak mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, dibuka pada US$ 78,07 per troy ons pada Senin (25/5), kemudian bergerak di US$ 76,94 (Selasa, 26/5), US$ 74,60 (Rabu, 27/5), dan sedikit pulih ke US$ 75,63 (Kamis, 28/5).
Pergerakan harga ini mencerminkan fase konsolidasi pasar setelah gejolak besar pada pertengahan bulan.
Beberapa faktor utama terus memengaruhi pergerakan harga perak di pasar global, termasuk permintaan industri yang kuat, kebijakan moneter bank sentral, dan sentimen investor.
Perak merupakan komponen esensial dalam berbagai industri, seperti produksi panel surya, perangkat elektronik, dan komponen otomotif.
Permintaan akan teknologi ramah lingkungan yang terus meningkat menjadi pendorong utama penggunaan perak.
Di sisi lain, kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi sorotan utama bagi investor.
Ekspektasi suku bunga tinggi yang kemungkinan dipertahankan lebih lama oleh The Fed, menyusul data inflasi AS yang meningkat tercepat dalam tiga tahun pada April, memberikan tekanan pada logam mulia.
Kekhawatiran inflasi yang persisten seringkali memperkuat ekspektasi untuk kebijakan moneter yang lebih ketat, yang secara tradisional kurang menguntungkan bagi harga komoditas non-bunga seperti perak.
Namun, perak juga dikenal sebagai lindung nilai yang efektif terhadap inflasi, menjadikannya aset menarik selama periode ketidakpastian ekonomi.
Selain itu, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dapat membuat perak yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli internasional, sehingga turut menopang permintaan.
Situasi geopolitik, seperti laporan tentang potensi kesepakatan antara AS dan Iran, juga dapat memengaruhi sentimen pasar dan harga komoditas.
Di sisi penawaran, Meksiko, Peru, dan China masih menjadi produsen perak terbesar secara global.
Para analis dari Trading Economics memperkirakan perak akan diperdagangkan di sekitar 76,96 USD per troy ounce pada akhir kuartal ini dan berpotensi mencapai 91,80 USD dalam 12 bulan ke depan.
Sebagian besar platform prakiraan memprediksi kenaikan harga perak pada tahun 2026, didorong oleh permintaan industri yang kuat dan inflasi moderat.
UBS baru-baru ini merevisi turun proyeksi defisit pasokan peraknya, serta memangkas proyeksi permintaan investasi tahun penuh.
Meskipun demikian, perak diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang luas antara US$ 70,00 hingga US$ 90,00 per troy ons.
Level resistensi terdekat yang perlu ditembus untuk memicu pembalikan arah naik berada pada US$ 77,92, sementara penembusan di bawah US$ 75,00 berisiko menyeret harga lebih dalam.
Secara historis, perak pernah mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 121,64 USD per troy ounce pada Januari 2026.
Perak dianggap sebagai investasi yang solid selama periode pemulihan produksi pasca-krisis, karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan emas.
Dengan aplikasi yang luas dan statusnya sebagai logam mulia, perak terus menarik perhatian investor dan pelaku industri.
Volatilitas harga perak juga cenderung lebih tinggi dibandingkan emas, membuatnya lebih responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi global.
Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan data ekonomi global, kebijakan moneter bank sentral, serta inovasi teknologi yang menggunakan perak sebagai bahan baku.





