Harga Sawit Petani Anjlok Tajam Akhir Mei 2026: Kebijakan DSI Picu Ketidakpastian Pasar

Avatar of PortalMadura.com
Harga Sawit Turun Tipis Hari Ini: Apa Pemicu Koreksi Pasar Global dan Domestik?
Harga Sawit Turun Tipis Hari Ini: Apa Pemicu Koreksi Pasar Global dan Domestik?

PortalMadura.com – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di berbagai daerah Indonesia mengalami penurunan signifikan pada akhir Mei 2026.

Anjloknya harga ini terjadi setelah pemerintah mengumumkan kebijakan baru terkait pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal komoditas strategis.

Petani sawit di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Sumatera Utara, Dharmasraya (Sumatera Barat), dan Bangka Belitung merasakan dampak langsung dari kondisi pasar yang tidak menentu ini.

Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) mencatat, harga CPO di pasar tender turun drastis dari sekitar Rp 15.300 per kilogram menjadi Rp 12.150 per kilogram hanya dalam beberapa hari hingga 22 Mei 2026.

Sementara itu, harga minyak sawit berjangka di Bursa Derivatif Malaysia (FCPOc1) pada 22 Mei 2026 sempat naik tipis 0,63% menjadi 4.486 ringgit Malaysia per metrik ton dari hari sebelumnya.

Namun, secara bulanan, harga CPO di bursa Malaysia tersebut telah turun 2,03%.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan telah menetapkan Harga Referensi (HR) CPO untuk periode 1–31 Mei 2026 sebesar 1.049,58 dolar AS per metrik ton, meningkat 6,06 persen dibandingkan periode April 2026.

Kenaikan HR CPO di awal Mei didorong oleh peningkatan permintaan pasar di tengah penurunan produksi selama libur Idulfitri serta naiknya harga minyak mentah global.

Dengan HR CPO yang lebih tinggi, pemerintah juga mengenakan bea keluar (BK) CPO sebesar 178 dolar AS per metrik ton untuk periode Mei 2026.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan penurunan harga yang signifikan bagi petani TBS.

Di Sumatera Selatan, harga TBS anjlok dari Rp 3.577 per kilogram menjadi Rp 2.722 per kilogram pada 22 Mei 2026.

Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan menetapkan harga jual TBS tertinggi untuk periode kedua Mei 2026 sebesar Rp 3.882,25 per kilogram, menurun dari periode pertama yang mencapai Rp 3.916,08 per kilogram.

Harga TBS di Kalimantan Tengah juga turun dari Rp 3.483 menjadi Rp 3.163 per kilogram.

Petani di Dharmasraya, Sumatera Barat, melaporkan penurunan harga TBS yang sangat drastis, mencapai Rp 750 per kilogram dalam sehari, dari Rp 3.180 menjadi Rp 2.430 per kilogram pada 22 Mei 2026.

Provinsi Riau mencatat harga TBS petani plasma untuk periode 20–26 Mei 2026 turun sebesar Rp 33,56 per kilogram untuk kelompok umur 9 tahun, sehingga menjadi Rp 3.866,90 per kilogram.

Penurunan serupa juga terjadi di Jambi, di mana harga TBS turun dari Rp 3.266 menjadi Rp 2.944 per kilogram, serta di Sumatera Utara dari Rp 3.299 menjadi Rp 2.899 per kilogram.

Harga TBS di Bangka Belitung juga dilaporkan terus mengalami penurunan setiap hari pasca kebijakan DSI diumumkan.

POPSI menjelaskan bahwa pengumuman pemerintah mengenai PT DSI memicu kepanikan pasar, spekulasi, dan penurunan aktivitas perdagangan karena ketidakjelasan mekanisme bisnis.

Ketidakpastian ini membuat pengusaha, trader, refinery, dan eksportir menahan diri untuk melakukan pembelian.

Dampak langsungnya adalah buah sawit petani tidak terambil dan membusuk, menyebabkan kerugian besar bagi mereka.

Selain faktor kebijakan, pelemahan harga CPO dan kernel di pasar global juga turut menekan harga TBS di Sumatra.

Petani berharap pemerintah daerah dapat segera mencari solusi konkret untuk menstabilkan kembali harga TBS yang terus menurun, mengingat tingginya biaya operasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses