PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah melanjutkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, menyentuh level Rp17.717 di pasar spot, dengan beberapa platform melaporkan angka serupa pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Pelemahan ini telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha, terutama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, yang menyoroti ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyatakan pelemahan rupiah memberikan tekanan berlapis terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat pada Sabtu (23/5/2026).
Tingginya ketergantungan industri nasional pada bahan baku impor yang dibeli dengan dolar AS menjadi pemicu utama kenaikan biaya produksi.
Sektor manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil menjadi yang paling terdampak oleh kondisi ini.
Selain itu, daya saing produk domestik di pasar ekspor turut menurun karena menjadi lebih mahal dibandingkan produk negara lain.
Para pelaku usaha kini menahan stok bahan baku dan melakukan efisiensi produksi, mengantisipasi penurunan daya beli masyarakat yang dapat berujung pada PHK.
Sepanjang tahun 2026, rupiah telah melemah sekitar 6,30% terhadap dolar AS, dari Rp16.670/US$ pada 31 Desember 2025 menjadi Rp17.720/US$ pada 19 Mei 2026.
Penguatan dolar AS secara global dipengaruhi oleh arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga sepanjang 2026 karena inflasi AS yang masih tinggi.
Tensi geopolitik di Timur Tengah juga turut menjadi faktor eksternal yang menekan rupiah.
Dari sisi internal, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) meningkat akibat melonjaknya belanja subsidi minyak seiring pelemahan rupiah.
Bank Indonesia (BI) sempat menaikkan suku bunga acuannya pada Rabu (20/5/2026), namun intervensi tersebut hanya mampu menahan pelemahan rupiah selama satu hari.
Analis memprediksi rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS pada Mei 2026, bahkan berisiko mencapai Rp22.000 jika level Rp18.000 terlewati.
Jika skenario ini terjadi, Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) lebih lanjut pada Juni mendatang.
Nilai tukar rupiah saat ini berada pada kategori terburuk di antara mata uang negara berkembang (emerging market).
Meskipun demikian, beberapa industri seperti otomotif, melalui Jaecoo Indonesia, menyatakan masih menahan harga jual produk sambil terus memantau pergerakan ekonomi.
Sentimen global yang meliputi harga minyak tinggi, inflasi AS yang persisten, dan kenaikan imbal hasil Treasury terus memberikan tekanan pada mata uang lokal, yang diperparah oleh arus keluar modal dan tekanan fiskal domestik.




