oleh

Hijrah dan Transformasi Keadaban

Oleh : Nur Khalis*

Momentum Tahun baru Islam 1443 Hijriyah sebagai Epos Sejarah yang menakjubkan bagi pradigma peradaban dunia sangat penting untuk kita refleksikan di tengah perubahan wajah baru dunia yang mengundang kecemasan dan kegelisahan bagi kehidupan masyarakat dunia.

Menghidupkan memori sejarah hijrah di tengah duka nestapa dunia akibat perubahan iklim dan pandemi Covid-19 adalah energy dan spirit dalam membangkitkan kembali optimisme dan pentingnya menghidupkan transformasi keadaban di tengah tergerusnya nilai-nilai moralitas.

Peristiwa Hijrah dalam banyak literasi, kalau dilihat dari sudut pandang metafisis merupakan sebagai perintah Tuhan, tetapi dari sudut pandang sosiologis diibaratkan sebagai simbol kesejarahan yang dampaknya sangat besar dan dahsyat terhadap perubahan sosial dalam sejarah peradaban umat manusia.

Kehadiran sebuah buku 100 tokoh paling berpengaruh di dunia yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai the top leader adalah sebagai sebuah pilihan yang  berangkat dari  potret Hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai langkah strategis, politis sebagai pembawa risalah kenabian yang mengandung muatan transformasi keadaban.

Pengertian hijrah pada umumnya seringkali identik dengan meninggalkan suatu negeri yang tidak aman menuju negeri lain yang menjanjikan keselamatan dan kenyamanan, khususnya dalam menjalankan ajaran agama.

Meskipun secara fisikgeorafis peristiwa hijrah selalu dikaitkan dengan aktivitas Nabi SAW dan para sahabat, bagi umat Islam masa kini tetap terbuka kesempatan melakukan hijrah.

Dalam konteks ini hijrah bermakna melakukan upaya-upaya transformasi dan rekonstruksi diri dan masyarakat menuju kualitas yang lebih beradab.
1 Muharram sebagai tahun baru Islam, hendaknya dijadikan momentum memposisikan diri tegak, lurus, Istiqomah dalam menginjeksikan memori tentang nilai-nilai kejuangan, kegigihan, pengorbanan dan optimisme Nabi Muhammad dalam mewujudkan visi kenabian dalam membentuk tatanan masyarakat yang berkemajuan (madani) meski dalam bayang-bayang intimidasi, ancaman, teror, penderitaan dan dehumanisasi serta aksi-aksi sparatis lainnya.

Tragedi sejarah perjalanan menegangkan Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan hijrah ini sebagai bukti keteladanan tentang keteguhan prinsip, komitmen kejuangan, kecakapan diplomatik yang terpatri dalam jiwa raganya dalam mengemban tugas risalah dan kepemimpinan.

Dengan keluhurun akhlaknya mampu menampikan Islam dalam wajah yang utuh tidak hanya menjadikan Islam sebagai gerakan kultural melainkan juga mampu menampilkan gerakan strukturul yang berwibawa, bijaksana dalam mengambil segala bentuk keputusan. Sehingga kehadiran Islam yang dibawa Nabi Muhammad setelah mengalami masa (fatroh) kekosongan kenabian tidak hanya hadir sebagai agama yang mengurus ihwal urusan personal, tapi juga menjadi pilar penting bagi sistem sosial seperti yang diterapkan di Madinah.

Madinah yang menjadi pusat rujukan sistem sosial yang melampaui zaman secara etimologis dalam dirinya mengandung makna peradaban.

Perubahan nama tersebut dari Yasrib menjadi Madinah adalah cerminan komitmen kuat dari umat Islam untuk mengubah dan mengekpresikan diri menjadi umat yang beradab dan berkemajuan yang menanamkan nilai-nilai keadaban dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dalam kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Di Madinah mampu merumuskan konsep ukhuwah (persaudaraan) dalam menata kehidupan umat. Konsep ukhuwah ( persaudaraan) yang dirumuskan dan diaplikasikan dalam kepemimpinannya ditengah kehidupan masyarakat madinah yang heterogen dan majemuk diantaranya yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman) diantaranya juga ukhuwah wathaniyah ( persaudaraan sebangsa) dan ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Di Madinah, Nabi Muhammad yang di Daulat dan dipilih menjadi pemimpin pemersatu semua suku bangsa, mampu melindungi semua warga negara, hukum ditegakkan tanpa pilih kasih, bahkan Nabi memberikan pernyataan politik didepan publik bila anaknya Nabi sendiri ( Fatimah ) kalau mencuri, maka akan dihukum dengan tangannya sendiri sebagai bukti dimata hukum dan norma masyarakat semua manusia kedudukannya sama.

Melalui konsep persaudaraan kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah) tersebut, Nabi SAW disatu sisi ingin memberikan keteladanan kepada umatnya untuk menghayati keragaman dan perbedaan di antara mereka sebagai rahmat Tuhan, disisi yang lain Nabi Muhammad sekaligus membuktikan mampu menyatukan perbedaan, kepentingan dalam ikatan persaudaraan ditengah masyarakat yang berbeda-beda agamanya, haluan budayanya bahkan keyakinannya, kebangsaannya, Arab dan Yahudi semuanya guyub, rukun, egaliter antara satu golongan dengan golongan yang lainnya dalam tanggung jawab yang sama memelihara keamanan dan ketertiban dan mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan jaminan keamanan.

Etos kepemimpinan yang digerakkan Nabi Muhammad yang sebagai pengejawatahan dari sifat-sifat keadaban yang dimiliknya dari kejujuran, amanah, fatonah dan tabligh ( transformatif ) menghantarkan madinah sebagai negara modern, bahkan terlalu sangat modern untuk ukuran zaman itu. Ini semakin menunjukkan kepiawaian dan kemampuan Nabi dalam mengelola organisasi kenegaraan dan pemerintahan yang baik dan dinamis.

Dalam konteks Indonesia tentunya yang kita harapkan konsep hijrah yang mencerahkan, hijrah yang mengandung muatan transformasi keadaban dalam berbagai lini kehidupan yakni terwujudnya sebuah umat ideal (khaira ummah) yang berkedaban dalam wadah NKRI, sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Penguatan spirit hijrah dalam menstranformasikan nilai-nilai keadaban dalam ruang publik ini sangat penting ditengah merebaknya fenomena sosial dan problematika bangsa yang sudah menjadi panggung dramatisasi dan orkestrasi kehidupan masa kini.

Orkestrasi segologan masyarakat yang mengatasnamakan dirinya dengan Atas nama demokrasi, kesantunan publik ditanggalkan; atas nama keterbukaan, aib orang lain dibongkar; atas nama kebebasan pers, kode etik ditinggalkan. Atas nama globalisasi, kearifan lokal dimuseumkan, atas nama kebebasan akademik, guru-ulama dicaci-maki; Atas nama peningkatan pendapatan daerah, pariwisata syirik dan seksual dibuka; Atas nama stabilitas Nasional kebebasan berpendapat dibungkam.

Dan masih banyak lagi fenomena-fenomena sosial lainnya yang rawan membawa keretakan sosial. Melakukan pembiaran terhadap fenomena tersebut berarti membiarkan tergerusnya nilai-nilai keadaban dalam berbangsa dan bernegara.

Maka spirit menghidupkan memori Hijrah bagi Umat Islam sebagai bentuk komitmen yang kuat dan keberanian melakukan transformasi diri ke arah yang lebih positif dan konstruktif sebagai pioner dalam membawa visi Islam rahmatan lilalamin dan menjadi Umat terbaik yang selalu membawa dan menebar manfaat-kebaikan bagi semua makhluk di alam semesta.  Selamat Tahun baru 1443 Hijriyah.(**)

*Penulis : Ketua Satkar Ulama Surabaya

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com”.

Komentar