Hutang Luar Negeri Indonesia Capai Rp4.034,8 Triliun

Hutan Indonesia
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mempublikasikan total utang luar negeri Indonesia hingga akhir Januari mencapai USD357,5 miliar (setara Rp4.034,8 triliun), tumbuh 10,3 persen year on year.

Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia Tutuk Cahyono, Kamis (15/3/2018), di Jakarta mengatakan, utang luar negeri pemerintah dan bank sentral dari total utang luar negeri tersebut mencapai USD183,4 miliar dan utang swasta USD174,2 miliar.

“Utang luar negeri pemerintah dan bank sentral tumbuh USD2,8 miliar di Januari,” jelas Tutuk, dilansir Anadolu.

Dari total USD183,4 miliar utang luar negeri pemerintah dan bank sentral, Tutuk mengatakan 98,1 persen di antaranya adalah utang luar negeri jangka panjang.

Utang berjangka panjang ini tumbuh USD1,8 miliar pada akhir Januari yang didorong oleh arus dana asing pada surat berharga negara (SBN) dan peningkatan pinjaman.

“Pinjaman luar negeri pemerintah didominasi oleh project loan yang bertambah USD1,2 miliar dari bulan sebelumnya,” jelas dia.

Sementara utang luar negeri swasta, ujar Tutuk, tumbuh dari jumlah USD172,3 miliar di akhir tahun lalu menjadi USD174,2 miliar yang didorong oleh peningkatan posisi utang jangka panjang sebesar 3,9 persen year on year dan jangka pendek 15,8 persen year on year.

Meskipun tumbuh, Tutuk menjelaskan struktur utang luar negeri Indonesia secara keseluruhan masih relatif sehat karena didominasi utang luar negeri jangka panjang dengan porsi 85,9 persen dari total utang dengan jumlah USD307,2 miliar.

“Pertumbuhan utang luar negeri jangka panjang sebesar 9 persen year on year pada Januari, lebih besar dari pertumbuhan year on year di Desember yang tumbuh 8,9 persen,” imbuh dia.

Sementara utang luar negeri jangka pendek Indonesia, menurut penjabaran Tutuk, sebesar 14,1 persen dengan jumlah USD50,3 miliar dari total utang.

Baca Juga:  Seni Kriya Sebagai Unggulan, Sumenep Resmi Masuk Ekosistem Kabupaten Kreatif Indonesia

Utang berjangka pendek ini tumbuh melambat 18,3 persen year on year di Januari, lebih kecil dari pertumbuhan di Desember yang tumbuh year on year 19,8 persen.

Bila dibandingkan dengan PDB, porsi utang luar negeri Indonesia menurut Bank Indonesia tercatat stabil 34,7 persen. “Porsi utang terhadap PDB kita lebih baik dari rata-rata negara peer yang memiliki rasio utang terhadap PDB 42,8 persen,” jabar Tutuk.

Rasio utang luar negeri terhadap PDB Indonesia berdasarkan data BI masih jauh lebih baik dari Malaysia yang memiliki rasio 68 persen dan Turki 54,2 persen.

Kemudian bila dibandingkan dengan cadangan devisa, rasio utang Indonesia sebesar 37 persen. Sementara rasio utang Thailand terhadap cadangan devisa mencapai 125,1 persen, Filipina 111,9 persen, India 80,7 persen, dan Malaysia 48,9 persen.

Rasio utang Indonesia terhadap transaksi berjalan, menurut BI, membaik dari 169,2 persen menjadi 168 persen karena terjadi peningkatan penerimaan transaksi berjalan yang melampaui kenaikan posisi utang luar negeri.

“Hal ini mencerminkan adanya peningkatan kemampuan penghasilan valas dalam menanggung kewajiban utang luar negeri,” ungkap Tutuk.

Masyarakat Tak Perlu Cemas

Pemerintah meyakinkan masyarakat untuk tidak perlu cemas dengan kondisi utang luar negeri Indonesia yang kini sudah mencapai USD357,5 miliar atau sekitar Rp4897 triliun dengan kurs Rp13.700.

Dari jumlah tersebut, USD183,4 miliar di antaranya adalah utang pemerintah dan bank sentral.

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kementerian Keuangan Scenaider Siahaan mengatakan utang yang dimiliki Indonesia sebagian besar merupakan investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang positif.

“Bagian terbesar dimanfaatkan untuk belanja jasa-jasa yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial, serta infrastruktur,” jelas Scenaider di Jakarta.

Dia mengatakan, utang luar negeri dikelola pemerintah dengan hati-hati sehingga masyarakat tidak perlu mencemaskannya. Biaya utang luar negeri pemerintah saat ini menurut dia sudah semakin rendah.

Baca Juga:  Sandiaga Uno di Sampang, Peningkatan Ekonomi Kreatif Perlu Digitalisasi

“Semakin rendahnya biaya utang luar negeri Indonesia karena kepercayaan investor terhadap kita meningkat, peringkat kredit kita juga membaik, begitupun dengan fundamental ekonomi kita,” jelas Scenaider.

Selain itu, pembayaran biaya dan cicilan utang luar negeri pemerintah menurut dia juga sudah dianggarkan dalam APBN dan mendapat persetujuan dari DPR.

“Ini menjadi privilege bagi pemerintah untuk membayarnya di kemudian hari. Selama ini pemerintah tidak pernah default (gagal membayar),” ungkap dia.

Dalam pengelolaan utangnya, pemerintah melakukannya secara terukur dan hati-hati dengan mengutamakan efisiensi biaya. “Ini selaras dengan pengembangan pasar keuangan,” imbuh Scenaider.

Rasio utang luar negeri pemerintah Indonesia terhadap GDP menurut dia masih berada di batas aman sebesar 29,1 persen. Rasio utang ini masih jauh di bawah batas yang ditetapkan dalam undang-undang keuangan negara nomor 17 tahun 2003 yang ditetapkan sebesar 60 persen.

“Kita masih lebih baik dari rasio utang pemerintah Vietnam sebesar 63,4 persen, Thailand 41,8 persen, Malaysia 52,7 persen, dan Brazil 81,2 persen,” urai dia.

Dengan target penerimaan negara pada tahun ini yang sekitar Rp1878,4 triliun, maka utang luar negeri yang dimiliki Indonesia masih aman.

“Memang nominal utang kita besar, tapi bila dibandingkan dengan kemampuan membayar, maka utang kita masih aman,” tegas dia.(AA)


Ikuti Berita Kami Lainya di Google Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.