IHSG Labil Pasca Lebaran, Pengamat: Investor Mulai Buru Emas Sebagai Safe Haven

Avatar of PortalMadura.com
IHSG Labil Pasca Lebaran, Pengamat: Investor Mulai Buru Emas Sebagai Safe Haven
IHSG Labil Pasca Lebaran, Pengamat: Investor Mulai Buru Emas Sebagai Safe Haven

portalmadura.com – Dinamika pasar keuangan Indonesia pasca libur Lebaran 2026 menunjukkan tren pergeseran preferensi investor. Di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih bergerak labil dan fluktuatif, instrumen investasi emas kini semakin diminati sebagai aset pelindung nilai (safe haven).

Meningkatnya minat terhadap logam mulia ini dipicu oleh masih tingginya ketidakpastian global, tensi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, serta fluktuasi harga energi. Kondisi tersebut mendorong investor untuk mengambil langkah defensif dengan mengamankan portofolio mereka ke instrumen yang lebih stabil.

Pergeseran Portofolio ke Aset Aman

Pengamat Pasar Modal, Hendra Wardana, mengonfirmasi fenomena tersebut. Menurutnya, fase pasca Lebaran tahun ini berpotensi menjadi titik balik meningkatnya permintaan di sektor emas akibat sentimen global yang belum mereda.

“Dalam kondisi ketidakpastian global yang meningkat, investor global cenderung mengalihkan sebagian portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas atau obligasi pemerintah,” ujar Hendra kepada Liputan6.com, Senin (23/3/2026).

Hendra menambahkan, selama pasar saham masih cenderung volatil, emas menawarkan alternatif investasi yang lebih stabil. Peluang penguatan sektor ini dinilai masih cukup besar selama faktor risiko global belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Emiten Emas RI Masuk Indeks Global, Dana Asing Siap Masuk

Menariknya, daya tarik sektor emas tidak hanya terjadi pada komoditasnya saja, tetapi juga merambah ke lantai bursa. Sektor tambang emas Indonesia mulai mendapatkan perhatian serius dari investor internasional.

Hal ini dibuktikan dengan masuknya sejumlah emiten emas nasional ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index. Beberapa saham yang berhasil masuk indeks bergengsi tersebut antara lain PT Archi Indonesia Tbk, Amanah Gold Resources, dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk.

Hendra Wardana menilai, inklusi ini memberikan dua manfaat strategis bagi pasar modal Indonesia. Pertama, visibilitas perusahaan tambang emas nasional di kancah global akan meningkat drastis. Kedua, adanya potensi masuknya arus dana pasif (passive inflow).

“Manfaat kedua adalah potensi masuknya arus dana pasif atau passive inflow dari ETF dan fund global yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi,” pungkas Hendra.

Selain faktor inklusi global, prospek jangka panjang sektor emas domestik juga ditopang oleh fundamental perusahaan yang kuat, termasuk rencana peningkatan produksi dan eksplorasi cadangan baru oleh para emiten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses