PortalMadura.com – Kegagalan Tim Bulu Tangkis Indonesia memperbaiki prestasi di ajang Badminton Asia Championship (BAC) 2026 menyalakan alarm kewaspadaan. Skuad Merah Putih kembali gagal menempatkan satu pun wakilnya di partai final, mengulang pencapaian minor pada edisi sebelumnya. Hasil ini memicu tanda tanya besar mengenai kesiapan mental dan teknik para pemain menjelang turnamen beregu bergengsi, Piala Thomas dan Uber 2026.
Langkah terakhir dua wakil tersisa Indonesia terhenti di babak semifinal yang berlangsung di Ningbo Olympic Arena, Ningbo, China, Sabtu (11/04/2026). Di sektor ganda putra, pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri harus mengakui keunggulan ganda Korea Selatan nonunggulan, Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju, melalui pertarungan ketat tiga gim.
Nasib serupa menimpa sektor ganda putri. Pasangan Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti belum mampu membendung ketangguhan wakil tuan rumah yang juga unggulan pertama, Liu Sheng Shu/Tan Ning. Kekalahan beruntun di semifinal ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan berat untuk bersaing di level elite Asia.
Analisis Pengamat: Realitas Kekuatan Saat Ini
Pengamat bulu tangkis, Daryadi, menilai hasil di BAC 2026 sejatinya mencerminkan kondisi riil kekuatan bulu tangkis Indonesia saat ini. Menurutnya, ketatnya persaingan di level Super 750 ke atas, termasuk BAC yang setara Super 1.000, memang menjadi ujian berat bagi skuad Merah Putih.
“Melihat materi pemain dan progres sejak awal tahun, persaingan di level 750 ke atas itu memang berat. Wajar jika PBSI tidak memasang target terlalu tinggi. Para pemain muda, seperti Alwi Farhan dan Moh Zaki Ubadillah, masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi di level elite,” ujar Daryadi saat diwawancarai.
Tumbangnya Harapan Senior dan Sinyal Positif dari Putri
Kekecewaan juga datang dari sektor tunggal putra. Harapan pada pemain senior seperti Jonatan Christie tidak sepenuhnya terjawab. Jonatan harus tersingkir lebih awal setelah dikalahkan oleh Ayush Shetty.
“Meskipun kekalahan itu wajar melihat penampilan Ayush yang mampu mengalahkan pemain top seperti Li Shi Feng (China) dan bahkan juara bertahan Kunlavut Vitidsarn (Thailand). Secara keseluruhan, ajang BAC ini masih menjadi bagian dari proses pematangan, terutama bagi pemain muda,” tutur Daryadi menambahkan.
Sisi positif mulai terlihat di sektor putri, khususnya pada nomor ganda. Meski hasil akhirnya belum memenuhi target, Daryadi melihat perkembangan signifikan di mana beberapa pasangan mampu mengimbangi permainan pemain papan atas dunia.
“Secara kemampuan sebenarnya tidak jauh. Namun, selama ini kalau bertemu China, Jepang, atau Korea, kita sering kalah duluan secara mental,” kata Daryadi mengevaluasi.
Bahan Pertimbangan Terakhir untuk Piala Thomas-Uber
Hasil dari BAC 2026 ini menjadi bahan pertimbangan terakhir yang krusial bagi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dalam menetapkan komposisi tim final untuk Piala Thomas dan Uber 2026. Turnamen beregu tersebut akan berlangsung pada 24 April hingga 3 Mei 2026 di Horsens, Denmark.
Berdasarkan hasil BAC, PBSI memutuskan untuk mengombinasikan pemain senior dan muda dalam skuad Thomas dan Uber mendatang. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan kekuatan tim sekaligus mempercepat proses regenerasi pemain bulu tangkis Indonesia.





