Ini 5 Hal yang Akan Terjadi pada Tubuh Saat Puasa

Avatar of PortalMadura.com
Penurunan berat badan
Ilustrasi
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Berpuasa di bulan Ramadan selain untuk memperoleh pahala yang berlipat ganda juga mempunyai manfaat bagi kesehatan. Namun, kadangkala banyak orang yang tidak menyadari hal ini. Akan ada perubahan pada tubuh selama menjalankan puasa.

Oleh karena itu, selama puasa Anda harus tetap memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Jadi, ketika sedang berpuasa akan ada beberapa perubahan pada tubuh manusia. Apa saja?

Berikut ulasannya:

Penurunan Berat Badan
Tubuh tidak memperoleh energi dari makanan selama masa puasa. Karena itu, energi tersebut masuk ke glukosa dan disimpan dalam hati serta otot. Proses ini dimulai sekitar 8 jam setelah makanan terakhir dikonsumsi.

Ketika glukosa yang tersimpan habis, tubuh akan mulai membakar lemak sebagai sumber energi. Sehingga, hal ini bisa menyebabkan penurunan berat badan.

Baca Juga:  Ambunten dan Lenteng Tertinggi, PMK Merambah Kepulauan Sumenep

Tingkat Kolesterol Turun
Masih terkait dengan alasan di atas, Dr. Razeen Mahroof dari Universitas Oxford di Inggris mengatakan, penggunaan lemak sebagai energi bisa membantu mempertahankan otot dan mengurangi tingkat kolesterol.

Detoksifikasi
Selain mengurangi tingkat kolesterol, tubuh secara otomatis juga akan mengeluarkan racun yang ada di dalamnya

“Proses detoksifikasi juga terjadi karena racun yang disimpan dalam lemak tubuh dilarutkan dan dikeluarkan dalam tubuh,” tambah Mahroof.

Kesehatan Mental
Puasa yang dilakukan selama beberapa hari bisa menghasilkan hormon endorfin yang diproduksi dalam darah. Hal ini dipercaya memiliki manfaat untuk kesehatan mental.

Kekebalan Tubuh
Menurut Dr. Valter Longo dari University of Southern California (USC) di Los Angeles, berpuasa mampu meningkatkan regenerasi sel kekebalan tubuh.

Baca Juga:  Ambunten dan Lenteng Tertinggi, PMK Merambah Kepulauan Sumenep

“Ketika Anda kelaparan, sistem tubuh mencoba untuk menghemat energi. Salah satu hal yang dilakukan yaitu dengan mendaur ulang banyak sel kekebalan yang tidak diperlukan, terutama yang mungkin rusak,” jelas Longo. (merdeka.com/Desy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.