oleh

Ini Identitas Oknum Caleg Diduga Lakukan Kekerasan Pada Komisioner Panwaslu

PortalMadura.Com, Pamekasan – Dugaan tindak kekerasan terhadap Pengawas Pemilu 2019 oleh oknum calon legislatif (Caleg) di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur terus didalami aparat kepolisian setempat.

Dugaan kekerasan itu akibat alat peraga kampanye (APK) milik oknum Caleg dari Partai Demokrat (PD) ditertibkan. Dugaan kekerasan menimpa salah satu komisioner Panwaslu Kecamatan Waru, Pamekasan, Moh Tohiruddin.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Merujuk pada bukti laporan korban pada aparat kepolisian nomor: STL/5/IV/2019/Polsek yang ditanda tangani bagian Sentra Pelayanan Kepolisian Unit III Aiptu Pujianto tertanggal 5 April 2019 tertulis indeintas oknum Caleg tersebut, yakni Caleg Demokrat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Pamekasan III, berinisial S.

Komisioner Panwaslu Kecamatan Waru, Pamekasan, Moh Tohiruddin mengaku dirinya mengalami tindakan kekerasan berupa pemukulan dibagian kepala dan muka.

Dugaan kekerasan itu terjadi di Jalan Raya Waru-Pasean, tepatnya di Dusun Palalang, Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, Kamis malam, sekitar pukul 22.30 WIB, (4/4/2019).

“Oknum Caleg itu datang bersama teman-temannya lalu memukul saya karena tidak terima alat peraga kampanye (APK) miliknya ditertibkan,” terang Tohir sapaan akrab Moh Tohiruddin, Minggu (7/4/2019).

Atas kasus tersebut, pihaknya berharap aparat kepolisian mengusut tuntas. “Saya berharap, polisi mengusut tuntas kasus ini,” harapnya.

Kasatreskrim Polres Pamekasan, AKP Hari Siswo Suwarno, mengatakan, pihaknya sudah melayangkan pemanggilan kepada terlapor.

“Kemarin kita sudah melayangkan surat panggilan kepada terlapor. Hasilnya akan kami umumkan,” kata Hari via telepon oleh PortalMadura.Com.

Berdasarkan informasi lain yang dihimpun PortalMadura.Com menyebutkan, sebelum terjadi pemukulan, ada sekitar lima orang datang yang diduga merobek alat peraga kampanye (APK) milik Caleg Partai Demokrat, berinisial S.

Warga sekitar langsung menegur karena dianggap sekelompok orang itu hanya ingin merusak alat peraga kampanye. Namun, mengaku dari Panwaslu Kecamatan.

Warga sekitar tidak langsung percaya, selain waktu penertiban dilakukan larut malam, yang mengaku Panwaslu Kecamatan tersebut juga tidak menggunakan seragam sebagai petugas Pengawas Pemilu.

Selain itu, saat penertiban juga tidak didampingi aparat lain, semisal dari petugas kepolisian, Koramil atau Satpol PP, sehingga terjadilah cekcok mulut hingga tindakan dugaan kekerasan.

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar