oleh

Inilah Mitos Gerhana Bulan ‘Merah Darah’ Bagi Warga Pedesaan di Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Gerhana bulan bagi warga pedesaan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur selalu identik dengan hal-hal yang negatif dalam kehidupannya.

Sehingga sebagian masyarakat pedesaan ada yang membuat makanan bubur (tajin) diberi pewarna bermacam-macam, semisal diatas bubur diberi warna merah, biru, hitam dan warna-warna lainnya.

Bubur tersebut sebagai lambang tolak balak selama setahun.

Bahkan, sebagian diantaranya, gerhana bulan dimanfaatkan untuk ‘membangunkan’ semua pepohonan yang jarang berbuah atau hewan peliharaanya. Mereka memukul-mukul pohon atau hewan peliharaannya dengan menggunakan kayu atau batu.

“Tujuannya, semoga pohon yang jarang berbuah bisa berbuah bagus. Bagitu juga hewan  peliharaan, semoga cepat beranak. Dan saya baru saja membangunkan sapi di kandang,” kata Hairi (39), salah seorang warga Desa Tengedan, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Sabtu (4/4/2015).

Mitos tersebut sudah turun temurun ditengah kehidupan masyarakat pedesaan. Semua itu tentu minta sama Allah. “Mintaknya ya sama Allah, tapi kan sudah dari nenek moyang, katanya kalau gerhana bulan, semua pohon dan hewan disuruh bangunkan dengan cara di pukul-pukul,” katanya.

Gerhana bulan totalnya terjadi pada pukul 18.54 Wib. Puncaknya pukul 19.00 Wib dan gerhana total berakhir pukul 19.06 Wib.

Diprediksi, gerhana bulan sebagian berakhir pukul 20.45 Wib dan gerhana akan berakhir pukul 22.00 Wib.(Hartono)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.