oleh

Inilah Sosok Santri yang Sukses Berwiraswasta

PortalMadura.Com, Sumenep – H. Moh. Sahnan bukanlah orang asing atau baru di Sumenep. Ia merupakan putera daerah asli Kabupaten Sumenep yang lahir di Arjasa, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Masa kecilnya dihabiskan di Pulau Kangean. Ia lahir tumbuh dan besar di lingkungan keluarga besar kaum nahdliyyin. Orang tuanya merupakan seorang guru ngaji yang memiliki surau yang banyak dijadikan tempat belajar mengaji oleh anak-anak di sekitar rumahnya.

Pendidikan H. Moh. Sahnan lebih banyak dihabiskan untuk menekumi dan mendalami ilmu-ilmu agama. Sewaktu masih belia, di kampung halamannya ia banyak berguru kepada sejumlah kiai. Sewaktu duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, H. Moh. Sahnan menekumi di Pondok Pesantren Al-Hidayah Arjasa.

Salah satu gurunya yang terkenal hingga kini adalah Kiai Abdul Adhim, seorang tokoh agama kharismatik yang memiliki puluhan ribu santri, dan pengasuh pondok pesantren terkenal di Kepulauan Kangean dan sekitarnya.

Lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, H. Moh. Sahnan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah, masih di pondok pesantren yang sama, dengan menginduk ke Madrasah Tsanawiyah Tarate Sumenep. Di Madrasah Tsanawiyah, pengetahuan keagamaannya semakin terasah dan kental. Ia seperti mewarisi jiwa orang tuanya yang juga seorang guru agama.

Saat remaja, H. Moh. Sahnan cukup dikenal sebagai siswa yang memiliki otak moncer dan cerdas. Salah satu mata pelajarannya adalah matematika, mata pelajaran yang menjadi momok bagi para siswa pada waktu itu. Namun tidak demikian bagi H. Moh. Sahnan, ia malah lebih menyukai matematika dibanding dengan mata pelajaran lainnya.

Lulus Madrasah Tsanawiyah, H. Moh. Sahnan mencoba hidup merantau jauh dari orang tua. Ia berangkat ke Sumenep untuk menuntut ilmu. H. Moh. Sahnan mencoba hidup mandiri dan terpisah dari orang tua. Saat itu, anak muda yang pergi merantau  ke Sumenep terbilang jarang, hanya kalangan tertentu yang berani merantau ke Sumenep, H. Moh. Sahnan satu di antaranya.

Ia pernah diterima di tiga sekolah lanjutan tingkat atas sekaligus. Ia diterima di Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Sumenep, Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sumenep, dan Pendidikan Guru Agama (PGA) Sumenep. Meski sangat ingin belajar di SMA 1 Sumenep, namun dorongan dan naluri keagamaannya, di samping karena dorongan keluarga besarnya, akhirnya H. Moh. Sahnan memutuskan untuk melajutkan pendidikan di pendidikan guru agama.

Pendidikan agama sangat kental dan mengalir deras di dalam tubuhnya. Sewaktu belajar di PGA H. Moh. Sahnan juga ikut nyantri dan mengaji kitab kuning di Pondok Raudlatut Thalibin yang diasuh oleh Kiai Mukmin. Di samping belajar formal di PGA, H. Moh. Sahnan juga menghabiskan sebagian waktunya untuk belajar kitab kuning secara nonformal.

H. Moh. Sahnan, SH Remaja Pemberani, Pandai Bergaul dan Pekerja Keras

Sewaktu belajar di PGA, H. Moh. Sahnan dikenal teman-teman sekolah maupun teman sepermainannya merupakan sosok remaja yang pandai bergaul dan setia kawan. Sehingga H. Moh. Sahnan banyak sekali memiliki kawan dan rekan yang hingga kini masih tetap terhubung meski mereka tidak tinggal bersama dalam satu sekolah maupun satu kota.

Sebagai remaja yang berada di rantau dan sedang mengadu nasib menuntut ilmu, nyali H. Moh. Sahnan terasah dan terbilang cukup berani. Meski belajar di pendidikan guru agama, ternyata ia berani menghadapi orang yang dianggapnya mengganggu harga diri dan teman-temannya.

Gara-gara teman sekelasnya diledek, pernah suatu ketika ia menantang berkelahi seorang remaja yang merupakan putera seorang tokoh terkenal di Sumenep waktu itu. Malah dari saking nekadnya, H. Moh. Sahnan sempat mendatangi kediaman seterunya itu hingga ke rumahnya di Lenteng Sumenep.

Atas sikapnya tersebut, teman-teman sekolahnya mengenal H. Moh. Sahnan sebagai siswa yang pemberani dan tidak kenal takut. Sehingga dengan sendirinya, H. Moh. Sahnan dituakan oleh rekan sekelas maupun rekan sekolahnya. Namun hal tersebut tidak membuatnya bersikap sombong, rekan dan sahabatnya malah semakin banyak.

H. Moh. Sahnan menyelesikan pendidikan guru agama pada tahun 1988. Setelah itu ia sibuk bekerja dan mengurus keluarganya. Namun kebiasaan H. Moh. Sahnan untuk berkumpul bersama rekan dan sahabat tetap ia lestarikan dengan membiasakan diri untuk bertemu secara berkala setiap tahun dengan teman-temannya sesama alumni pendidikan guru agama (PGA). Malah, H. Moh. Sahnan sering rela berkorban dengan mengeluarkan biaya sendiri hanya untuk keperluan silaturrahim dan berkumpul bersama teman-temannya di Kabupaten Sumenep.

Setiap tahun, secara rutin, H. Moh. Sahnan menghadiri kegiatan reuni dan temu kangen para alumni yang digelar oleh para alumni pendidikan guru agama, baik sesama rekan, maupun juga melibatkan para guru, di Kabupaten Sumenep. Tak hanya bersama rekan-rekan sejawatnya, H. Moh. Sahnan juga terlihat familiar dan suka sekali berkumpul bersama para warga kepulauan yang ada di Jawa Timur maupun di Kalimantan Selatan.

Secara personal, saat berkumpul bersama rekan maupun sesama warga kepulauan, ia tidak ingin terlihat menonjol, ia bersikap sama saja dengan rekan-rekan lainnya yang juga hadir. Malah untuk hidangan, makanan dan minuman yang disediakan oleh pihak pengundang, H. Moh. Sahnan lebih menyukai makanan dan minuman tradisional dibandingkan dengan makanan lain. Ia terlihat tampak bersemangat saat menyantap makanan tradisional khas Sumenep dan kepulauan, dibandingkan saat menyantap makanan modern, yang biasanya dinikmati sekadarnya.

Begitu pula dengan usaha yang dijalankannya, ia banyak sekali memberdayakan orang-orang telah dikenalnya, baik berdasarkan pendidikan, maupun asal daerahnya. Terutama untuk usaha batu bara dan jasa kontraktor, ia banyak melibatkan tenaga kerja dari wilayah Sumenep maupun kepulauan. Dengan begitu secara tidak langsung ia juga berkontribusi untuk membantu keluarga orang-orang yang ikut bekerja bersamanya.

Sejak sekolah di pendidikan guru agama itu, H. Moh. Sahnan dikenal juga sebagai sosok pekerja keras. Kondisi keluarga yang serba pas-pasan, menempanya menjadi remaja yang mandiri dan pekerja keras. Di saat jam sekolah sudah usai, terutama pada malam hari, ia terbiasa menarik becak, untuk mendapatkan upah yang digunakan untuk membiaya keperluan hidup selama berada di Sumenep. (mc/htn)


Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE