Kabar Beras Plastik Mengemuka di Indonesia Sejak 2015 dan Sempat Ramai di Tiga Negara Afrika

Beras
Beras bermerk Cendrawasih Special yang disebut-sebut warga Pajanangger, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Madura diduga berbahan plastik. (Foto. Istimewa)
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Warga Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur heboh dengan beras yang diduga palsu.

Beras yang disebut-sebut berbahan plastik (sintetis) diterima oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Pajanangger.

Salah seorang warga setempat, Hairudin hingga membuat video dan menyebutkan ciri-ciri beras yang berbahan plastik tersebut. (Video Testimoni).

Kepala Desa Pajanangger, Suhwari menghimbau warganya agar mengumpulkan beras ‘plastik’ tersebut ke balai desa, dalam artikel PortalMadura.Com berjudul KPM BPNT Arjasa Diduga Terima Beras Sintetis . Bahan pangan itu diambil dari agen atau e-warung setempat, Selasa (14/1/2020).

Kabar beras plastik sebenarnya sudah mengemuka di Indonesia sejak tahun 2015 seperti dimuat dalam artikel Liputan.com berjudul, Cerita Terungkapnya Misteri Beras Plastik di Indonesia.

Bahkan, sempat menerpa tiga negara Afrika: Senegal, Gambia, dan Ghana.

Dikutip dari BBC Indonesia, dalam artikel berjudul Beras plastik, sekedar rumor atau memang nyata? pada 6 Juli 2017, rumor beras plastik berasal dari China dan ramai menjadi perbincangan para pengguna media sosial sejak tahun 2010.

Berikut isi artikel tersebut:

Meski tak ada bukti yang kuat, rumor beras plastik terus saja beredar, kali ini ramai dibahas di tiga negara Afrika: Senegal, Gambia, dan Ghana.

Maraknya isu terbaru mengenai beras plastik dipicu oleh video viral yang menunjukkan bola nasi ‘yang memantul’ saat dilempar ke lantai. Sedemikian hebohnya sehingga pihak berwenang di Ghana melancarkan investigasi.

Mereka mengundang warga dan pedagang untuk mengirim beras yang dicurigai terbuat plastik. Namun setelah melakukan penyelidikan disimpulkan bahwa tidak ada beras plastik yang dijual di pasar Ghana.

Rumor beras plastik berasal dari Cina dan ramai menjadi perbincangan para pengguna media sosial sejak tahun 2010. Biasanya, rumor menyebutkan bahwa beras asli dicampur dengan beras plastik.

Isu ini masuk ke kawasan Afrika pada 2016 ketika petugas bea cukai Nigeria menyita 2,5 ton beras. Awalnya para pejabat bea cukai di negara tersebut mengklaim bahwa beras yang disita tersebut terbuat dari plastik.

Tapi kemudian Kementerian Kesehatan menegaskan klaim tersebut salah dan tidak ada bukti bahwa beras plastik telah masuk Nigeria. Meski demikian hasil uji menunjukkan beras yang disita mengandung bakteri dalam jumlah besar.

Wartawan France 24 yang banyak menulis berita soal ini, Alexander Capron, mengatakan banyak pihak sengaja menyebar rumor beras plastik untuk ‘mendorong masyarakat membeli atau mengonsumsi beras hasil produksi dalam negeri’.

“Rumor ini populer terutama di negara-negara yang menggantungkan diri pada beras impor, seperti Pantai Gading atau Senegal,” kata Capron. Sering kali rumornya menghebohnya yang mendorong pemerintah mengeluarkan bantahan.

Tapi Hassan Arouni, editor program BBC Focus on Africa, mengatakan tak yakin apakah rumor sengaja disebar untuk melawan negara-negara penghasil beras seperti Cina.

Terlepas dari siapa yang memulai, Arouni mengatakan langkah yang diambil negara-negara Barat dalam menghadapi rumor beras plastik sudah benar, yaitu dengan melakukan penelitian dan menyampaikan bantahan resmi.

Lalu siapa yang menyebar rumor beras plastik? “Mungkin ada orang-orang yang iseng yang menyebar berita palsu di internet,” kata Arouni.

Beras yang disebut-sebut berbahan plastik (sintetis) dan diterima oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur diperlukan pihak terkait untuk turun langsung guna memastikan benar tidaknya kabar tersebut.

Baca Juga:  Gambar Profil WhatsApp Bupati Fauzi, Mengingatkan pada Sosok Pemimpin Zuhud dan Cerdas

Jika dibiarkan maka akan ada dampak kurang baik terhadap program pemerintah kedepannya dan warga juga butuh penjelasan serta kepastian.(*)


Ikuti Berita Kami Lainya di Google Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.