oleh

Kali Pertama Budaya Ojung Diperankan Kaum Perempuan Sumenep

SUMENEP (PortalMadura) – Sepanjang sejarah budaya Ojung yang merupakan peninggalan nenek moyang masyarakat Madura, Jawa Timur, baru kali ini ada sepasang petarung dari kaum hawa yang siap adu tanding kekuatan memukul lawan dan mengadu kekebalan tubuhnya.

Saling pukul menggunakan rotan sepanjang 1 meter dan ujungnya dikemas bergigi tidak membuat kehilangan nyali untuk menunjukkan kepiawayannya di depan ribuan penonton. Ojung kali ini, digelar di Desa Batuputih Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep.

Layaknya Ojung yang dimainkan kaum laki-laki, keduanya juga menggunakan penutup kepala sebagai pengaman dan gumpalan kain di bagian lengan kiri untuk menahan pukulan lawan. Sang ‘Peputoh’ atau wasit yang bertugas mengatur jalannya pertarungan memberi alokasi waktu lebih sedikit dibanding petarung kaum laki-laki.

Hanya tiga kali pukulan dalam satu ronde, Peputoh menghentikan pertarungan. Lalu, dilanjutkan pada ronde kedua. Bedenya, jika petarung dari kaum laki-laki, waktu yang diberikan lebih lama, bahkan saling pukul hingga mengelaurkan darah segar bagi yang tidak kebal. Ojung perempuan kali ini waktunya yang diberikan sangat singkat atau sekitar 5 menit dalam satu ronde.

Baju yang dikenakan berupa deker (bahan kaos tipis) dan bagian bawahnya menggunakan celana legging. Sedangkan petarung laki-laki sama sekali tidak menggunakan baju, sehingga petarung yang tidak mampu menahan pukulan dengan lengan kirinya, maka rotan bergigi akan menyentuh dengan keras, baik ke bagian tubuh bagian belakang maupun lengan kirinya. Saling Melukai, Budaya Ojung Masih Dilestarikan

Penanggungjawab pagelaran Ojung Perempuan, M. Hosen mengatakan, digelarnya Ojung perempuan tersebut karena permintaan dari pihak petarung. “Jika Ojung perempuan ini direstua oleh para tokoh masyarakat, maka akan digelar lagi dan para petarung akan ditampilkan di Jakarta pada acara pagelaran budaya” terangnya. Budaya Ojung Bukan Tontonan Gratis Lagi

Konon, Ojung merupakan budaya turun temurun yang digelar oleh masyarakat Madura sebagai bentuk syukur usai panen. Dan salah satu ritual untuk meminta hujan. Dalam pertarungan ojung tidak ada dendam antar pemain. Iringan musik tradisional dan kidungan Madura menambah semarak pertarungan Ojung tersebut. Bagaimana perhelatan Budaya Ojung di Madura?. Silahkan kunjungi Budaya Ojung Masih Digemari Warga.(sai/htn)


Komentar