oleh

Kasur Pasir Yang Tak Lekang Oleh Waktu

SUMENEP (PortalMadura) – Di era serba modern dan berbagai kebutuhan hidup yang dibalut dengan kecanggihan teknologi terlihat tidak terpengaruh terhadap kehidupan warga disebagian desa Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Yakni, warga Desa Legung Barat dan Desa Dapenda yang kehidupanya mayoritas nelayan, masih bertahan tidur diatas pasir. Berkasur pasir merupakan gaya hidup mereka yang tidak akan lekang oleh waktu. Sebab, tidur dipasir bagi mereka mampu membuat kondisi tubuhnya sehat dan menjadi obat.

Tak ayal, jika disudut-sudut kamar tidur rumahnya terdapat tumpukan pasir yang menjadi tempat istirahat. Bahkan, diruang tamu pun ada gundukan pasir berwarna kuning gading. Kala melepaskan lelah disiang hari, mereka asyik bersenda gurau bersama keluarga diatas pasir tersebut.

Berkasur pasir, bukan hanya dilakukan oleh warga yang kelas ekonominya menengah ke bawah. Tetapi, juga dilakukan oleh warga yang mempunyai pendapatan katagori kelas menengah keatas. Terbukti, meski berlantai keramik, terdapat antena parabola, mobil, dan kasur spring bed, tetap menyediakan kamar khusus pasir.

Mereka merasakan dingin tidur diatas pasir saat musim panas, dan merasa hangat tidur di pasir, kala waktu musim penghujan. “Kalau tidur di atas pasir membuat badan segar, mas!,” kata Ny Harsiyani (38), salah seorang warga Dusun Samburat, Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, Minggu (16/2/2014).

Pasir yang digunakan diambil dari sekitar Wisata Pantai Lombang yang dikenal dengan pohon cemara udangnya. Jenis pasirnya halus dan tidak lengket bila menyentuh badan. Jika badan dalam kondisi basah, maka saat kering akan mengelepus dengan sendirinya. Istimewanya, pasir itu halus, bersih dan mengkilat.

Warga mempunyai pemahaman, jika pasir-pasir itu mampu menyembuhkan penyakit rematik. Bahkan, ada ibu-ibu yang berusaha melahirkan di atas pasir agar bayinya sehat. Meski belum ada hasil penelitian secara ilmiah, masyarakat setempat merasakan manfaat tidur beralaskan pasir.

Bukan Manusia Pasir

Salah seorang tokoh pemuda setempat, Ali Makki mengatakan, sebutan manusia pasir hanya diungkapkan oleh para pendatang yang kebetulan mampir dan ingin tahu soal pasir. Padahal, warga setempat menyebutnya kasur pasir.

Ia juga tidak tahu mulai kapan warga menggunakan kasur pasir tersebut. “Sudah turun temurun, warga disini menggunakan pasir untuk alas tidur. Dan rasanya memang berdampak positif pada kesehatan tubuh,” ujar Makki.

Untuk sampai ke lokasi kampung pasir, harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan jarak 31 kilometer (km) dari pusat kota Sumenep, ke arah wisata Pantai Lombang.

Kondisi warga setempat sangat terbuka dan ramah bila ada tamu yang ingin tahu soal kasur pasir. Mereka pun tidak segan-segan mengajak tamunya untuk mencoba dan merasakan nikmatnya kasur pasir tersebut.

Bagi pengunjung Wisata Pantai Lombang, tidak ada salahnya bila mampir sejenak ke perkampungan pasir tersebut. Sebab, bila ikut jalur Kecamatan Batang-Batang ke utara, maka akan melintas dilokasi tersebut sebelum sampai di Pantai Lombang. Yuk…. berwisata ke Sumenep?.(htn)


Komentar