Kasus Penyebaran Bingkisan Bersimbol Agama Non Muslim Masih Tahap Penyelidikan

Kasus Penyebaran Bingkisan Bersimbol Agama Non Muslim Masih Tahap Penyidikan
Kapolres Sumenep, AKBP Joseph Ananta Pinora
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Sumenep – Kepala Kepolisian Resor (Polres) Sumenep, Madura, Jawa Timur, AKBP Joseph Ananta Pinora mengatakan, kasus penyebaran bingkisan bersimbol agama non muslim pada saat sosialisasi wawasan kebangsaan yang digelar oleh Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Pembudaya Kejuangan 45 Sumenep bekerjasama dengan Yayasan Sejahtera Bangsa Mulia (SBN), Gresik di sejumlah sekolah dasar masih dalam tahap penyelidikan.

“Kami memang menerima pengaduan dari masyarakat terkait kasus tersebut. Kasus tersebut sekarang dalam tahap penyelidikan. Untuk naik ke penyidikan, harus memenuhi unsur-unsur pidananya,” kata Kapolres Sumenep, AKBP Joseph Ananta Pinora, Rabu (22/3/2017).

Kapolres menegaskan, untuk mengungkap kasus pidana, bukan hal sederhana. Saat ini kasus pemberian bingkisan tersebut masih dalam proses kajian tim penyidik Polres setempat.

“Kalau nanti hasil kajian dan keterangan saksi ahli memenuhi unsur-unsur pidananya, maka kami tidak akan segera menindak secara hukum,” tuturnya.

Ia menegaskan, selama proses penyelidikan, Polres setempat telah meminta keterangan pada sejumlah saksi seperti Dinas Pendidikan, DHC 45, Yayasan SBM, guru, dan kepala sekolah yang ditempati sosialisasi wawasan kebangsaan tersebut.

“Kami sudah meminta keterangan terhadap sejumlah saksi, termasuk Disdik, yayasan sebagai penyelenggaran kegiatan. Jadi kami tidak diam,” imbuhnya.

Sebelumnya, pada tanggal 21 Februari 2017, Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Pembudaya Kejuangan 45 Sumenep bekerjasama dengan Yayasan Sejahtera Bangsa Mulia (SBN), Gresik melakukan sosialisasi wawasan kebangsaan di sejumlah SD di Sumenep.

Usai kegiatan tersebut, panitia membagikan bingkisan Kepada siswa yang ada di 4 SD di Kecamatan Manding, dan 5 SD di Kecamatan Kota Sumenep. Penerima bingkisan tersebut adalah siswa kelas IV, V, dan VI.

Bingkisan yang diberikan pada siswa tersebut berisi barang-barang bersimbol agama non Muslim, padahal, di Sumenep mayoritas penduduknya beragama muslim. Akibatnya, sejumlah orang tua siswa menolak dan mengembalikan bingkisan tersebut. (Arifin/Putri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.