Kejahatan Gibah Lebih Berat dari Zina, Benarkah?

Rewriter: Putri KuzaifahRujukan: Islam.nu.or.id
Kejahatan Gibah Lebih Berat dari Zina Benarkah
Ilustrasi (keluargacinta.com)
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Hampir setiap orang mempunyai kecenderungan bercerita pada orang lain. Adapun topik yang mudah dibicarakan yaitu kisah hidup orang lain. Apalagi saat dalam keadaan marah pada seseorang, mengungkapkan keburukan orang itu rasanya ringan saja diucapkan.

Akibatnya, tanpa dasar yang tepat bisa berkembang menjadi kabar yang tidak benar dan kebohongan pun semakin melebar kemana-mana. Perilaku ini tanpa sadar seringkali dilakukan banyak orang. Padahal, dosanya sangat besar dan bisa mendatangkan ancaman siksa di dalam kubur. Bahkan, benarkah kejahatan gibah (mengunjing) lebih besar dari zina?.

Untuk mengetahui jawabannya, mari simak penjelasan berikut sebagaimana dilansir PortalMadura.Com, Selasa (3/5/2022) dari laman Idlam.nu.or.id:

Seberapa berat ancaman dan dosa bagi orang-orang yang suka berbuat gibah atau menggunjing? Surat Al-Hujurat ayat 12 menyatakan bahwa gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain) sama saja dengan memakan daging bangkai saudara Anda sendiri.

Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah Anda merasa jijik kepadanya, (Surat Al-Hujurat ayat 12).

Diriwayatkan, pada zaman Rasulullah SAW bila ada orang yang berbuat gibah, maka siksanya langsung diperlihatkan, sebagaimana yang terjadi pada dua orang wanita yang diperintah olehnya untuk memuntahkan darah kental dari mulutnya setelah menggunjing saudaranya.

Seiring banyaknya orang menggunjing, seperti sekarang ini, siksaan itu pun tidak lagi diperlihatkan. Terlebih dosa besar itu sudah dianggap sebagai hal biasa dan lumrah terjadi.

Padahal, Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa dosa gibah lebih berat dari dosa zina:

الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا . قِيلَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ يَزْنِي ثُمَّ يَتُوبُ، فَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ

Artinya, “’Gibah itu lebih berat dari zina.’” Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku gibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang digibahnya,’” (HR At-Thabrani).

Tak hanya itu, diriwayatkan bahwa Allah pernah berfirman kepada Nabi Musa AS, “Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan bertobat dari perbuatan gibah, maka dia adalah orang terakhir masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dalam keadaan terbiasa berbuat gibah, maka dia adalah orang yang paling awal masuk neraka.

Lebih bahaya lagi, kelak di akhirat orang yang suka gibah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah oleh orang yang digibahnya. Amal kebaikannya dibayarkan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya, termasuk kepada orang yang telah digibahnya.

Setelah amal kebaikannya habis, amal keburukan orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia akan menjadi orang yang bangkrut, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadis berikut ini.

Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang sudah tidak memiliki dirham dan harta benda lain.”

Ia menjelaskan, “Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa amal salat, amal zakat, amal puasa, namun dia pernah mencaci si ini, menuduh si ini, makan harta si sini, menumpahkan darah si ini, memukul si ini sehingga yang ini dibayar dengan kebaikannya dan yang ini dibayar dengan kebaikannya. Setelah kebaikan-kebaikannya habis sebelum semua kezaliman terbayar, maka diambillah keburukan-keburukan mereka yang pernah dizaliminya lalu ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia dilemparkan ke dalam neraka.”

Demikianlah bahaya perbuatan gibah yang selama ini dianggap enteng. Mudah-mudahan, berkat uraian ini, Anda semakin waspada terhadap segala bentuk perbuatan yang dapat menghapus amal kita, termasuk perbuatan gibah.

Harapannya, agar amal kita selamat tidak ada yang menggerogoti dan diterima di sisi Allah SWT. Amin. Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.