Kekeringan Parah Terjang Sumenep, 11 Desa Kritis Terima Bantuan Air Bersih BPBD

Avatar of PortalMadura.com
Kekeringan Parah Terjang Sumenep, 11 Desa Kritis Terima Bantuan Air Bersih BPBD
Kekeringan Parah Terjang Sumenep, 11 Desa Kritis Terima Bantuan Air Bersih BPBD

SUMENEP, portalmadura.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep mempercepat pendistribusian pasokan air bersih ke berbagai daerah yang mengalami ancaman kekeringan kritis. Memasuki puncak musim kemarau, intervensi logistik terus dikerahkan guna memenuhi kebutuhan mendasar warga terdampak.

Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, Kamiluddin, mengonfirmasi bahwa hingga Rabu (9/9/2026), tercatat sebanyak 11 desa yang tersebar di empat kecamatan berada dalam status kering kritis dan memerlukan pasokan air secara berkala.

Adapun rincian wilayah yang diprioritaskan mendapat bantuan meliputi:

  • Kecamatan Pasongsongan: Desa Montorna, Prancak, Lebeng Barat, dan Campaka.
  • Kecamatan Talango: Desa Kombang dan Poteran.
  • Kecamatan Rubaru: Desa Basoka dan Mandala.
  • Kecamatan Batuputih: Desa Batuputih Daya, Batuputih Laok, dan Larangan Barma.

Untuk menyokong kebutuhan dasar masyarakat, armada armada tangki BPBD secara bergiliran menyuplai air bersih ke pemukiman warga.

“Setiap tangki membawa sekitar 5.000 liter air bersih yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, minum, dan mandi,” terang Kamiluddin pada Kamis (10/9/2026).

Kamiluddin menambahkan, dampak kemarau ini berpotensi meluas. Pihaknya telah menerima laporan krisis air dari Kecamatan Gayam, khususnya di Desa Pancor, Gendang Barat, dan Prambanan. Sebagai langkah darurat awal, warga setempat mengangkut air dari sumber terdekat menggunakan kendaraan pikap berspesifikasi tandon berkapasitas 1.200 liter.

Guna memperluas daya jangkau penanganan, Pemkab Sumenep kini tengah mengajukan sokongan dana Belanja Tak Terduga (BTT) kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Upaya teknis seperti pembuatan sumur bor sempat ditempuh di beberapa titik, namun terkendala oleh kualitas air tanah yang tidak layak konsumsi.

Kondisi ini memicu tanggapan dari warga setempat. Moh Ali Rizqon, warga Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, berharap armada bantuan air bersih dari pemerintah dapat datang secara konsisten dan tepat waktu.

“Keterbatasan sumber air di wilayah kami semakin terasa ketika kemarau mencapai puncaknya, sehingga warga sangat bergantung pada pasokan bantuan ini,” tutur Ali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses