oleh

Kepercayaan Pasar Buat Rupiah Perkasa

PortalMadura.Com, Jakarta – Bank Indonesia menyebut nilai tukar rupiah pada minggu pertama Januari masih perkasa seiring dengan adanya kepercayaan pasar dan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, faktor lain yang menjadi obat kuat rupiah adalah semakin bekerjanya mekanisme pasar valas di dalam Negeri.

“Alhamdulillah nilai tukar rupiah minggu pertama Januari stabil dan bahkan menguat di kisaran Rp14.300. Sebelum salat Jumat tadi saya pantau di level Rp14.270,” ungkap Perry seusai salat Jumat di Jakarta.

Kepercayaan investor menurut dia, terlihat dalam lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang dilakukan Pemerintah dengan target lelang pada minggu ini sebesar Rp15 triliun.

“Yang bidding lebih dari 3 kali bahkan lebih dari Rp50 triliun. Overspread yang dimenangkan adalah Rp28,2 triliun,” jelas Perry. dilaporkan Anadolu Agency, Jumat (4/1/2019).

Kondisi itu tambah Perry, menunjukkan confident investor baik dalam maupun luar Negeri yang sangat kuat terhadap ekonomi Indonesia dan juga investasi di aset keuangan Indonesia, terbukti dari sisi oversubscribe lelang SBN.

Selain itu, Perry menambahkan dengan lelang SBN juga dapat menambah suplai di pasar valas karena sebagian pembeli SBN adalah investor asing.

iklan hari santri

“Dengan pembelian SBN oleh investor asing telah menambah suplai valas dan mendorong pergerakan rupiah yang menguat, selain juga semakin bekerjanya mekanisme pasar,” imbuh Perry.

Mekanisme pasar valas ungkap Perry, seluruhnya bekerja dengan baik seperti pada pasar spot, swap, dan juga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Kurs DNDF jelas dia, juga bergerak stabil menguat, bahkan lebih rendah dari off sore NDF.

“Ini semakin menunjukkan bekerjanya pasar DNDF,” tegas Perry.

Selain dua faktor domestik yang membuat rupiah menguat, Perry mengatakan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan China juga menjadi faktor global yang membuat rupiah bergerak positif.

“Kita pantau terus nanti minggu depan bagaimana solusi ketegangan perdagangan, langkah lanjutannya dan juga akan meredakan premi risiko di pasar keuangan global,” urai dia.

Meski begitu, Perry melihat masih ada tekanan yang berasal dari faktor global khususnya terkait perubahan dan perkembangan ekonomi China terkait perkembangan perang dagang AS-China untuk sejumlah investor, khususnya investor ritel Jepang.

“Sehingga konklusi penguatan rupiah lebih karena dua faktor domestik tersebut,” tutur Perry. (AA)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.