oleh

Kepergian Guru Budi dan ‘Rapor Merah’ Madura

Oleh: Moh Ramli
Mahasiswa Unipdu Jombang

Rezeki, jodoh dan kematian tentu hanya Allah Swt yang mengatur. Juga dengan kepergian guru Budi Cahyanto, Kamis (1/2/2018), akibat ulah siswa yang diluar dugaan menyebabkan Budi pergi untuk selama-lamanya. Tetapi pertanyaanya adalah, pantaskah semua itu terjadi ? apa yang salah dengan pendidikan di negeri kita? apakah memang sedang sakit atau bagaimana?. Guru yang seharusnya dihormati, disegani, malah terbalik arah dan dibunuh. Miris memang.

Tentu, kemirisan ini seperti yang dikatakan Prof. Dr. Mahfud MD, yang dilansir PortalMadura.Com, beliau memaparkan bahwa, peristiwa ini tidak bisa dijadikan gambaran umum kondisi pendidikan nasional. Menurutnya, kejadian itu hanyalah kejadian insidentil saja.

Namun hemat saya, paling tidak ada dua hal yang dirasa perlu jadi perbincangan mendasar. Pertama, kepergian guru SMAN 1 Torjun, Sampang, yang disebabkan dugaan penganiayaan oleh siswanya sendiri adalah indikasi bagi pendidikan Indonesia, bahwa pendidikan dalam keterpurukan karakter generasi bangsa saat ini sudah overdosis dan perlu secepatnya ditindak lanjuti secara lebih cepat dan serius.

Kedua, bagi saya sebagai orang yang lahir di tanah Madura, hal ini sebuah permasalahan yang begitu cepat melesat dari arah positif kearah negatif, dari manusia Madura yang memiliki jiwa penghormatan, penghargaan, ketakdziman, kepada yang lebih tua, termasuk guru adalah hal yang paling umum dikenal dimasyarakatnya.

Tidak berhenti disitu, selain memiliki etos kerja yang luar biasa, jiwa solidaritas yang tinggi, dari sejak dahulu masyarakat Madura dikenal dengan masyarakat yang paling kental dengan keagamisannya yang mayoritas Islam. Seperti masi memakai songko’ (kopiah) dan sarung misalkan, yang sampai saat ini masih bisa kita lihat bersama.

Hal ini juga dikatakan oleh almarhum KH. Mohammad Tidjani Djauhari (2008) dalam bukunya “Membangun Madura” bahwa, bagi masyarakat Madura, beragama Islam tidak saja sebatas melakukan ritual formal semata. Beragama memiliki dimensi makna yang lebih dalam, ia adalah keyakinan yang menghujam kokoh di jantung orang-orang Madura, way of life yang menuntun mereka ke jalan kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan, sekaligus berfungsi sebagai bingkai dan spirit yang senantiasa memompa motivasi orang-orang Madura untuk selalu berbuat dengan nilai ajaran agama.

Lanjutnya, tingginya apresiasi masyarakat Madura dalam beragama bisa dilihat betapa antusiasnya mereka memakmurkan masjid, musalla, dan langgar yang bertebaran diseluruh penjuru Madura.

Jika ditanya kondisi tempo dulu, khususnya pendidikan di Madura, bagaimana jika seorang murid melaporkan ke orang tua jika dipukul, dicubit dan sebagainya oleh seorang guru, karena berbuat kesalahan dan kenakalan. Jawabannya, jangankan orang tuanya mau memarahi guru, malah seorang anak tambah dipukul dan sebagainya oleh orang tuanya sendiri.

Hal ini yang begitu sangat beda dengan pendidikan sekarang, mungkin tidak banyak, namun sudah ada buktinya, siswa yang hanya dipukul, dicubit oleh seorang guru karena permasalahan tertentu, langsung dilaporkan kepihak kepolisian dengan orang tuanya, dengan pengaduan kekerasan terhadap anak-anak (baca: UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002).

Begitu cengengnya masyarakat sekarang, yang akhirnya seorang guru sudah tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang pendidik dengan maksimal.

Dan pada akhirnya, kepergian guru Budi, menjadi sebuah renungan akan sebuah kebobrokan pendidikan di negeri ini yang perlu dibenahi, seperti pendidikan karakter yang lebih dikedepankan dan yang paling lebih penting adalah membangun kembali relasi positif antara orang tua murid dan guru di sekolah untuk menjadi satu kesatuan yang mampu mendidik secara bersama-sama.

Bagi masyarakat Madura, kemirisan ini adalah sebuah “rapor merah” yang tentunya harus menjadi renungan bersama, bagaimana mengembalikan jiwa-jiwa generasi Madura yang sesungguhnya, yaitu generasi Madura yang menghormati, menyanyangi, mentadkzimi dari yang muda ke yang lebih tua, termasuk lebih-lebih kepada seorang “guru” yang selalu dimuliakan seperti orang tua sendiri.

Dimana etos ketaatannya ini yang sudah tergambar jelas dalam urutan yang terkandung dalam sebuah pribahasa Madura, yaitu “Bhuppa’ Bhâbbhu’ Ghuru Rato” (bapak, ibu, guru dan raja) yang dapat diartikan bahwa, seorang “guru” harus didahulukan dari raja atau penguasa.

Kini, kita harus mengikhlaskan guru Budi sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” pergi untuk selama-lamanya, kita doakan saja semoga ditempatkan ditempat yang paling indah disisi-Nya. Amin ya rabbal alamin.(*)


Tirto.ID
Loading...

Komentar