oleh

Ketika Kafe di Sumenep Jadi Posko Covid-19, Tanggalkan Ego Bisnis, Kedepankan Rasa Kemanusiaan

PortalMadura.Com – Sebelum pandemi Covid-19 merambah Indonesia, aktivitas warga normal. Semua sendi kehidupan berjalan sebagaimana biasanya. Di Sumenep, Jawa Timur, pun seperti itu.

Tabularasa, salah satu kafe di Sumenep, sebagaimana kafe lainnya, setiap harinya terlihat ramai sebelum pandemi Covid-19. Siang maupun malam hari.

Serupa kafe lainnya, Tabularasa menjadi tempat tongkrongan untuk berkumpul. Namun, seiring pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah untuk social distancing hingga physical distancing, aktivitas Tabularasa berubah.

Imbauan pemerintah agar semua elemen masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari kerumunan massa, membuat situasi pun berganti. Tabularasa tutup sebagai kafe dan menjadi posko relawan Gusdurian Peduli.

Maklum, Faiqul Khair Al-Kudus, owner Tabularasa yang Koordinator Gusdurian Peduli Sumenep memutuskan menghentikan aktivitas bisnisnya dan selanjutnya memilih beraktivitas sosial kemanusiaan.

“Ada imbauan dari pemerintah, meskipun plin-plan, yang harus kami hormati dan taati. Kami memilih menanggalkan ego bisnis dan fokus ke aksi sosial kemanusiaan,” kata Faiq, sapaannya, Kamis (28/5/2020).

Tabularasa pun tutup sebagai kafe sejak 24 Maret 2020 dan “merumahkan” 10 karyawannya. Pilihan yang sulit jika menggunakan kacamata bisnis. Namun, realistis dan kewajiban jika mengedepankan rasa kemanusiaan.

“Kami ini santri dan harus ikut kiai. Gus Dur (almarhum KH Abdurrahman Wahid) pernah berpesan agar peka dengan persoalan kemanusiaan. Jangan melulu mengurus bisnis dan politik,” ujarnya, menambahkan.

Sebagian karyawan Tabularasa memang terlibat aktif dalam aksi kemanusiaan ala Gusdurian Peduli Sumenep. Sebagian dari mereka ikut turun ke lapangan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga yang menjadi dampak Covid-19.

Selain karyawan, ada pula relawan yang bergabung dalam aksi kemanusian Gusdurian Peduli sejak Tabularasa menjadi posko.

“Alhamdulillah dan terima kasih banyak kepada kawan-kawan dan mitra yang memercayakan bantuan kemanusiaan kepada kami,” ucapnya.

Faiq menjelaskan, pihaknya ingin memberikan contoh sebagai pengusaha untuk mengikuti kebijakan pemerintah dalam kondisi pandemi Covid-19.

Meskipun, hal yang terkait “urusan perut” akhirnya berkurang dan di sisi lain terus bergerak untuk membantu warga yang terdampak Covid-19.

“Kami sebenarnya ingin memberikan contoh, termasuk kepada pemerintah daerah agar tegas. Kalau harus tutup, idealnya semuanya tutup. Kami pun tutup demi kebijakan pemerintah. Kalau mau bahas uang, tidak akan ada habisnya. Banyak kafe yang memang tetap beroperasi kok,” katanya, sambil tersenyum.

Faiq pun mengucapkan terima kasih atas dukungan elemen masyarakat dan pihak terkait yang menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui Gusdurian Sumenep.

Selain paket sembako kepada warga, bantuan yang disalurkan melalui Gusdurian Peduli juga berupa ribuan Alat Pelindung Diri (APD) kepada tenaga medis di rumah sakit maupun puskesmas di Sumenep.

“Kami akan tetap bergerak sebagai relawan hingga pemerintah mencabut status pandemi Covid-19. Selama belum dicabut, kami akan tetap jalan. Insya-Allah,” katanya. (*)

Penulis : Slamet HD
Editor : Lisa Mana L
Tirto.ID
Loading...

Komentar