oleh

Ketimpangan Sosial Terpampang Nyata di tengah Pandemi Covid-19

PortalMadura.Com – Meskipun dapat menghambat penyebaran Covid-19, tinggal di rumah bukanlah pilihan bagi sebagian orang, dan masa pandemi ini semakin memperjelas kesenjangan sosial yang ada di dalam masyarakat.

Seorang sosiolog dari Turki, banyak negara, termasuk Turki, telah mendirikan dewan sains untuk mengoordinasikan penanganan Covid-19.

Namun, akan semakin banyak dokter dan tenaga medis yang dibutuhkan di dewan ini mengingat adanya masalah sosial, ekonomi, psikologis, hingga politik yang akan bermunculan pascapandemi.

“Kita akan merasakan dampak Covid-19 untuk waktu yang lama, terutama dalam bidang sosial dan budaya. Oleh karena itu, peran sosiolog sangatlah esensial untuk mencari solusi bagi masyarakat,” katanya.

Sosiolog dari Istanbul Medeniyet University, Lutfi Sunar, berpendapat ada kemungkinan untuk membangun kerja sama lintas disiplin di Turki, dan semua ilmu harus melakukan bagian mereka untuk mencapai hal ini.

Satu hal yang pasti, menurutnya, sosiolog harus meninggalkan menara gading mereka dan kembali ke kehidupan nyata, apalagi dalam masa krisis ini.

Sunar meyakini bahwa masyarakat bukanlah makhluk mekanis.

“Masyarakat memiliki struktur operasional yang simpatik. Artinya, ketika ada tantangan, mereka diprogram untuk keluar dari sana dengan satu atau banyak cara. Struktur yang tak teratur ini dicapai karena kerja sama dan solidaritas antarmanusia, yang dianggap sebagai tindakan irasional oleh ilmu pengetahuan,” papar dia.

Dari sudut pandang sosiologi, wabah ini telah menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan biologis manusia.

“Ini adalah sebuah tamparan keras bagi modernitas yang mencita-citakan masyarakat steril. Idealisme ini didasarkan pada klaim keabadian manusia, yang kini diguncang oleh pandemi yang merenggut puluhan ribu nyawa di seluruh dunia,” ujar Sunar.

Rasa takut akan tertular virus menyebabkan tindakan irasional pada banyak orang.

Di beberapa negara, dapat menyaksikan pembuat kebijakan dan pemimpin tidak serius menangani krisis ini, sehingga menghasilkan kebijakan yang tak bertanggung jawab, yang justru memperburuk krisis.

“Sejumlah negara mampu mencapai batas ketahanan sosial-ekonomi. Untuk mencapai hal ini, diperlukan kolaborasi antara sosiolog, antropolog, ahli virologi, ahli epidemiologi, dan pakar kesehatan masyarakat. Prioritas hari ini adalah menemukan solusi dari pandemi, tetapi di saat yang sama, kita juga perlu memahami alasan di balik krisis ini dalam skala global,” kata dia lagi.

Kesenjangan di Turki dan di seluruh dunia

Menurut ahli, langkah-langkah pembatasan yang diambil banyak negara sebagian besar berfokus pada larangan meninggalkan rumah dan operasional bisnis.

Artinya, aturan itu hanya terbatas bagi mereka yang memiliki pendapatan stabil dan jaminan pekerjaan, padahal wabah ini telah memengaruhi semua struktur perusahaan dan bisnis tanpa terkecuali.

Berdasarkan analisa data Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang dibagikan oleh Sunar, libur nasional yang diberlakukan karena wabah Covid-19 telah memengaruhi 2,7 miliar pekerja, atau 81 persen dari total tenaga kerja di dunia.

Selama kuartal kedua tahun ini, jam kerja sekitar 195 juta orang yang bekerja penuh waktu akan hilang.

Ekonomi dunia diperkirakan akan menyusut tiga persen hingga 10 persen (dalam skenario terburuk).

Bagi Sunar, tidak semua orang punya hak istimewa atau kebebasan untuk bekerja dari rumah.

Jika sektor tertentu menangguhkan pekerjaan atau meminta pekerjanya tidak masuk, maka para pekerja ini akan menghadapi risiko yang jauh lebih besar.

Sama halnya dengan bidang kargo, transportasi, makanan, yang masih bekerja siang dan malam.

Situasi kritis ini tampak dalam data Badan Ketenagakerjaan Turki (ISKUR) pada Maret.

“Jumlah pengangguran yang terdaftar di Turki naik 400 ribu dari Februari hingga Maret 2020. Bulan lalu, pemerintah sudah menggelontorkan dana kerja jangka pendek, sehingga dampak nyata kemungkinan belum akan terlihat bulan ini,” ungkap sosiolog itu.

Dia juga memperkirakan bahwa 13 persen atau setidaknya dua juta tenaga kerja di Turki akan kehilangan pekerjaan di akhir krisis ini.

Tenaga kerja yang terancam menganggur berasal dari sektor perumahan, makanan, ritel, dan tekstil.

Tetap di rumah bukan pilihan bagi sebagian orang

Meskipun tujuannya untuk meredam penyebaran virus korona, tetapi tak semua orang bebas untuk bekerja dari rumah.

“Dana stimulus yang dialokasikan pemerintah pada kenyataannya tidak bisa dialokasikan untuk kelompok-kelompok ini. Ini justru hanya akan semakin memperjelas ketimpangan sosial di masyarakat,” ujar Sunar.

Wabah Covid-19 menjadi ‘game-changer’ untuk membuka topeng beberapa negara, khususnya negara-negara maju dengan layanan kesehatan yang tak terorganisir atau mahal.

Apalagi, kelompok masyarakat miskin, yang bahkan dalam keadaan normal tak memiliki akses yang layak ke layanan kesehatan, adalah yang paling rentan dari krisis ini.

Kerugian ekonomi akibat pandemi hanya akan memaksa mereka untuk bergantung pada pinjaman.

“Tentunya ini akan memperlebar kesenjangan antarnegara sekaligus antarkelompok dengan tingkat pendapatan berbeda di negara yang sama,” jelas Sunar.

“Saya berharap agar vaksin bisa ditemukan dalam satu atau dua tahun ke depan. Namun, jika ketimpangan sosial tidak segera diatasi, maka akan ada trauma yang bertahan dalam jangka waktu yang lama,” kata dia lagi.

Oleh karena itu, data sosiologis dari ketidaksetaraan dan penelitian kemiskinan harus digunakan secara teratur untuk melestarikan dan merehabilitasi tatanan sosial.

Sosiolog juga harus selalu sadar akan fakta bahwa penyusutan ekonomi akan punya dampak yang berbeda-beda di setiap golongan masyarakat.(*)

Sumber : AA
Editor : Hartono
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE