oleh

Keunikan Nyadhar di Makam Pangeran Anggasuto

PortalMadura.Com, Sumenep – Masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, khususnya di wilayah Kecamatan Saronggi tentu tidak asing lagi dengan makam Pangeran Anggasuto di Kampung Kolla, Desa Kebun Dadap Barat.

Makam sesepuh masyarakat setempat yang diyakini sebagai orang pertamakali yang memperkenalkan budidaya garam itu berada di dalam kompleks pemakaman Asta Buju’ Gubang. Konon, disebut Buju’ Gubang karena disekitar pemakaman tersebut ada kali, masyarakat setempat menyebutnya gubang.

Penelusuran PortalMadura, didalam kompleks tersebut terdapat tujuh (7) makam. Selain makam Pangeran Anggasuto dan istrinya Nyai Rahmah, juga terdapat makan tiga saudara Pangeran Anggasuto yakni Mbah Kabasah, Mbah Dukun, dan Mbah Bangsa. Dua makam lainnya, Nyai Tinaju Pornama (istri Mbah Kabasah) dan Makam Nyai Tinaju Bekkas (istri Mbah Dukun).

Nyadhar pertama, kerap digelar pada saat panen garam. Lalu, Nyadhar besar-besaran dilakukan pada puncak panen garam. Masyarakat yang bekerja garam, mayoritas mengikuti acara Nyadhar yang dilambangkan sebagai bentuk syukur terhadap hasil panennya.

iklan hari santri

Tak ayal, pada saat Nyadhar masyarakat berduyun-duyun datang, semisal dari Desa Pinggir Papas, Desa Karanganyar dan Desa Palebunan, serta masyarakat lain dari luar Kabupaten Sumenep yang mempunyai penghasilan garam.

Tasyakuran tersebut dilambangkan dengan cara berdoa bersama dan membawa sejumlah makanan khas daerah masing-masing. Sebagai bentuk penghormatan pada sang pangeran, mereka juga membawa bunga atau membeli disekitar areal pemakaman. Bunga tersebut ditempatkan diatas nisan pangeran melalui petugas khusus yang dituakan oleh masyarakat setempat.

“Kalau mau ikut berdoa, ya harus beli bunga dulu. Lalu, berikan pada orang yang ada di dalam pendopo (sebelum masuk ke areal pemakaman, red),” kata Nafsah (47), salah seorang warga asal Desa Pinggir Papas, Sumenep yang akan melakukan ritual nyadhar, Jumat (8/8/2014) malam.

Prosesi Nyadhar dilakukan dua hari. Hari pertama menggelar doa bersama dan dilanjutkan hingga dini hari. Keesokan harinya (hari kedua) berbagai macam hiburan dan kesenian lokal ditampilkan. “Kalau malam hari banyak yang bermalam disini, mas!. Besok kan ada kegiatan juga,” tandasnya.(htn)

http://youtu.be/bL4W1LkJv0Q


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.