oleh

Keunikan Vihara Avalokitesvara Pamekasan

Inilah Vihara Avalokitesvara, yakni sebuah rumah ibadah agama Buddha yang didalamnya terdapat patung penemuan Pak Burung yang berukuran besar dan dikenal dengan AVALOKITESVARA BODHISATVA.

Patung tersebut berukuran tinggi 155 cm, tebal tengah 36 cm, dan tebal bawah 59 cm.

Vihara ini, berawal dari penemuan tiga buah patung yang terbuat dari batu hitam yang keras di Kampung Candi.

Kampung Candi saat ini, termasuk lingkungan Desa Polaga, di wilayah Kecamatan Galis, Pamekasan atau sebelah barat Pantai Wisata Talang Siring, Madura, Jawa Timur.

Patung ini ditemukan sekitar awal tahun 1.800 oleh seorang laki-laki yang bernama Pak Burung.

Setelah Pak Burung menemukan patung-patung diladangnya, berita tersebut sangat menarik perhatian penjajah Belanda waktu itu.

Pemerintha Hindia Belanda pun menugaskan Bupati Pamekasan yakni Raden Adullatif Palgunadi dengan gelar Panembahan Mangkudiningrat I yang bertahta tahun 1.804 sampai 1.842 masehi.

Beberapa ratus tahun kemudian, ada keluarga keturunan Cina di daerah itu membeli tanah (ladang) dimana patung-patung tersebut berada. Patung-patung ini dibersihkan dan baru diketahui bahwa patung tersebut adalah patung BUDHA versi Majapahit dalam aliran Mahayana yang banyak penganutnya di daratan Cina.

Saat ini, bangunan Vihara terlihat bagus dan masih kokoh. Dan banyak tamu yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Seabrek kelebihan dan cerita menarik ada di Vihara Avalokitesvara ini.
Vihara atau Kelenteng Kwan Im Kiong Candi, Pamekasan, tidak hanya sebagai tempat ibadah umat Tridharma, melainkan tempat ibadah untuk umat beragama lain, semisal Pura untuk umat Hindu serta Musalla untuk umat Islam juga ada di areal tersebut.

Areal Vihara ini, memang tidak terlalu besar hanya berukuran 4×4 meter. Tetapi, pihak Vihara, menyediakan perlengkapan ibadah bagi umat muslim. Jarak Musalla dengan Vihara hanya sekitar 10 meter yang dibatasi oleh dinding.

Sedangkan lokasi Pura paling dekat dengan Vihara. Ukuran Pura lebih kecil dari Musalla, yakni hanya 3×3 meter.

Di Areal Vihara ini, juga terdapat pohon Bodhi. Bagi umat Buddha tentu sudah paham seluk-beluk pohon tersebut. Pohon yang masuk kategori pohon tertua itu merupaan pohon Pencerahan bagi penganut Buddha.

Konon, pohon tersebut merupakan cangkokan dari pohon bodhi yang ada di Anuradha Vihara Srilanka dan masih keturunan pohon bodhi yang ada di Bodhgaya, India.

Dari berbagai agama dan kepercayaan tersebut, terlihat sibuk menghadapkan dirinya kepada penciptanya. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dan mancana negara.

Suasana tersebut terlihat hampir setiap hari. Lebih-lebih pada saat liburan panjang. Sehingga pihak pengelola Vihara juga menyediakan penginapan gratis bagi para tamu tersebut.

Untuk mencapai lokasi ini, bila ditempuh dari kota buaya Surabaya tidaklah sulit. Jarak lokasi ini adalah sekitar 126 kilo meter atau jarak tempu waktu 2 jam 30 menit.(Tim liputan PortalMadura)

http://youtu.be/mu0mSRq8M64

 


Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE