oleh

Kidung Cinta Bangsacara-Ragapadmi (edisi 2)

PortalMadura.Com – Ragapadmi… ahh, Bangsacara mendesah. Dua purnama yang lalu, ia masih merasa seperti seekor pungguk ketika memandang putri bulan itu bersanding dengan Prabu Bidarba di kereta kencananya. Betapa tiap malam ia meremas-remas hatinya sendiri, meratapi saat-saat ketika bidadari itu sedang terhampar di peraduan Sang Prabu.

Bangsacara pertama kali bertemu putri itu pada sebuah kapal kandas yang dijarah perompak. Untung, Bangsacara berhasil menyelamatkannya dari kejahilan para perompak. Sejak pertama melihatnya, Bangsacara telah terpikat dengan kecantikannya. Sayang, Prabu Bidarba mendengar kejadian itu, dan memerintahkan agar putri itu dibawa ke istana. Singkat cerita, putri cantik itu pun dijadikan selir Prabu Bidarba dan diberi nama : Ragapadmi.

Namun, baru beberapa hari usai pesta perkawinan, kehebohan melanda Keraton Madura. Wanita cantik yang entah berasal dari mana itu tiba-tiba terserang penyakit kulit yang menjijikkan. Kulit di sekujur tubuhnya melepuh, mengelupas, dan berlendir. Wajahnya pun tak terkecuali. Baunya sangat busuk. Sang Prabu murka dan selir itu pun diusir dari istana. Banyak yang mengira ia membawa penyakit menular dari negeri asing, walau ada juga yang bilang bahwa ia diracuni oleh orang yang dengki pada kecantikannya.

Mendengar kabar bahwa Selir Ragapadmi diusir dari istana, Bangsacara bergegas menghadap Sang Prabu. Ia memohon diberi kesempatan mencarikan obat untuk penyakit Ragapadmi. Sang Prabu mengijinkan, tapi tetap memerintahkan agar Ragapadmi dibawa keluar istana. Karena tak satupun tabib atau padepokan bersedia merawatnya, Bangsacara membawa Ragapadmi ke rumah ibunya di desa dekat pantai, jauh dari keraton.

Bangsacara tak berharap banyak ketika menitipkan Ragapadmi pada ibunya. Benih cinta dalam hatinya membuat ia tak tega menyaksikan penderitaan wanita itu. Ia hanya berharap ibunya mau merawatnya hingga penyakit aneh itu membawa ajal bagi Ragapadmi. Dan seperti yang diminta oleh Bangsacara, ibunya merawat wanita itu dengan telaten. Setiap hari ibunya memandikan Ragapadmi dengan air kapur dan meminumkan jamu yang diramunya sendiri. (Bersambung, Karya Rahadi W- Mandangin Bersama, 28 Mei 2013)


Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE