oleh

Kidung Cinta Bangsacara-Ragapadmi (edisi 4)

PortalMadura.Com – “Bangsacara!” Terdengar suara seseorang menghardik. Bangsacara terlonjak kaget, tak mengira ada orang lain di hutan itu. “Berhenti kau di situ!”

Bangsacara celingukan mencari asal suara. Ia semakin terkejut ketika menemukan asal suara itu… Patih Bangsapati! Dari balik pohon besar, Sang Patih keluar, menenteng busur dan anak panah. Menyusul, tiga orang prajurit kepatihan keluar dari semak-semak, semuanya dengan pedang terhunus.

Bangsacara mendadak berdebar-debar. Ini pasti tentang Ragapadmi, pikirnya. Sejak awal ia sudah mengkhawatirkan hal ini. Begitu Ragapadmi sembuh dari penyakitnya, seharusnya Bangsacara segera menyerahkannya pada Prabu Bidarba.

Tapi apa mau dikata, cinta mementahkan segalanya. Pernah terpikir untuk lari saja, bersama Ragapadmi, entah ke mana asalkan jauh dari Madura. Tapi mengingat ibunya yang lanjut usia, rencana itu tidak segera terlaksana. Dan lagi, ia tak mengira begitu cepat hal ini akan diketahui Prabu Bidarba.

Masalah lain adalah Patih Bangsapati. Bangsacara bukannya tak tahu bahwa Sang Patih itu memendam dengki kepadanya. Akhir-akhir ini, sebagai patih ia jarang dimintai pertimbangan oleh Sang Prabu. Prabu Bidarba justru semakin dekat dengan Bangsacara. Apabila Bangsacara mengembalikan Ragapadmi, tentu Sang Prabu akan semakin suka padanya.

Namun sebaliknya, kini masalah Ragapadmi bisa dipakai Patih Bangsapati untuk menjatuhkan Bangsacara di mata Sang Prabu. Dan Sang Patih akan mendapat nama dengan mengembalikan Ragapadmi ke istana.

iklan hari santri

“Oh, Kanjeng Patih…,” Bangsacara berlutut memberi hormat, “Ampuni hamba, Kanjeng. Hamba tidak tahu kalau Kanjeng Patih juga sedang berburu di hutan ini”.

“Jangan banyak mulut, Bangsacara!” bentak Sang Patih lagi. “Aku datang ke sini untuk mengakhiri hidupmu!”.

Bangsacara terperanjat. Ia melirik tombaknya, masih tertancap di tubuh kijang buruannya, sepuluh langkah dari tempatnya berlutut.

“Ampun, Kanjeng… apa salah hamba?”

“Hmh, pura-pura… Apa yang sudah kaulakukan dengan Putri Ragapadmi?”

Bangsacara terdiam. Tak ada gunanya lagi berdalih. Mengganggu selir raja, tak ada hukuman baginya selain hukuman mati. Lagi, ia melirik tombaknya, menghitung jarak dengan ketiga pengawal Patih Bangsapati.

Kembali melintas bayang-bayang semalam kemesraannya dengan Raga- padmi. Maafkan aku Ragapadmi… dunia ini memang bukan milik kita…. Bangsacara menarik nafas panjang. Merasa tak ada jalan untuk menyelamatkan dirinya dan Ragapadmi, ia pun nekat.

“Hei… hentikan dia!” pekik Patih Bangsapati melihat Bangsacara tiba-tiba bergerak cepat.

Ketiga prajurit kepatihan itu serentak menyerang, menghalangi langkah Bangsacara ke arah tombaknya. Beberapa sabetan pedang berhasil dihindarinya, tapi beberapa tetap menorehkan luka di tubuhnya. Melihat darah mengucur dari tubuh tuannya, kedua anjing Bangsacara menjadi kalap. Anjing-anjing itu menyalak dan menyerang para prajurit kepatihan.(Bersambung, Cerpen Karya Rahadi W- Mandangin Bersama, 28 Mei 2013).


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.