oleh

Kidung Cinta Bangsacara-Ragapadmi (edisi 7 habis)

PortalMadura.Com – Bangsacara meringkuk di tanah bersimbah darah. Di punggungnya tertancap sebatang anak panah. Di ulu hatinya terbenam sebilah keris, begitu dalam hingga hanya terlihat hulu keris itu, yang digenggam erat oleh Bangsacara. Darah menggenang di tanah, dari luka menganga di perutnya. Tiga orang laki-laki berdiri di sekitar Bangsacara, dan satu orang lagi terkapar di tempat lain.

“Kakang…!!” Ragapadmi menjerit histeris. Ia mengham- bur memeluk tubuh Bangsacara yang telah lunglai tak berdaya. Ketika menyadari bahwa ia berada dalam pelukan kekasihnya, Bangsacara membuka mata dan tersenyum. Wajahnya pucat pasi kehabisan darah.

“Yayi Ragapadmi… maafkan aku..,” bisik Bangsacara lemah.

“Kakang! Kakang Bangsacara!” jerit Ragapadmi. “Jangan tinggalkan aku….”

“Cabut keris ini Yayi… biarkan aku pergi…”

“Kakang Bangsacara, kalau Kakang pergi aku akan ikut bersamamu…” Ragapadmi menangis pilu.

Darah menyembur dari jantung Bangsacara ketika Ragapadmi mencabut keris yang menghujam dadanya. Kepala lelaki itu pun terkulai, hembusan nafas terakhirnya terbang bersama nyawanya. Kedua anjing Bangsacara melolong panjang, seolah tahu kepergian tuannya. Hal yang menakjubkan kemudian terjadi. Kedua anjing itu saling menggigit leher temannya, darah pun mengucur deras, dan keduanya pun meregang nyawa, menyusul kepergian tuannya.

Ragapadmi takjub melihat kelakuan anjing-anjing Bangsacara.
“Aduhai anjing, kalau kalian saja bisa menunjukkan kesetiaan begitu rupa, apalagi seorang istri. Kakang Bangsacara, kalau badan kita tak bisa menyatu di dunia, biarlah darah kita yang menyatu di alam sana, hingga kita terlahir kembali bersama.” Ragapadmi memandang keris yang berlumuran darah Bangsacara di tangannya.

“Ragapadmi!” seru Patih Bangsapati. “Bangsacara sudah mati. Kembalilah ke keraton. Bila kau tak ingin lagi berjumpa Prabu Bidarba, istana kepatihan pun terbuka untukmu. Akan kutinggalkan semua perempuan, bila kau mau pulang bersamaku ke kepatihan.”

Ragapadmi tak mendengar semua kata-kata itu. Tanpa sempat dicegah oleh Sang Patih, ia membenamkan ujung keris itu ke dalam jantungnya. Tanpa jerit, tanpa rintihan. Kemudian ia roboh, memeluk tubuh kekasihnya, Bangsacara.

Bangsapati diam terpaku.
Senja memerah. Matahari tenggelam ke pangkuan bumi.
(Cerpen Karya Rahadi W- Mandangin Bersama, 28 Mei 2013).


Komentar