oleh

Kisah Cinta Ahmad dan Saimah Berlangsung Seumur Jagung (edisi 7)

PortalMadura.Com, Sumenep – Sejak awal perkenalannya pada bulan April 2014, Ahmad Yani bin Mupaher (23), asal Pulau Raas, Sumenep, Madura, Jawa Timur dengan Saimah binti H.Mas’ud (21), asal putri Pulau Dewata Bali, hari-hari mereka dilalui dengan penuh keindahan dan keceriaan.

Dua insan yang saling mencintai ini, terlihat akrab dan selalu bersama dalam suka maupun duka, mereka tampak saling memahami posisi satu sama lain, sehingga tidak pernah terlihat ada pertengkaran dalam perjalanan cintanya.

Putra Madura dengan Putri pulau Dewata Bali, terlihat serasi dan sangat cocok untuk hidup bersama, mengarungi hidup dalam bingkai rumah tangga. Untuk lebih mempererat hubungan dua insan berlainan jenis ini, pada bulan Juli 2014, calon pengantin pria meminta orang tuanya di Madura untuk melamar gadis pujaannya dengan ikatan tunangan.

Permintaan Ahmad Yani tidak ditolak oleh orang tuanya. Mupaher (23) dan ibundanya Sitti (korban PLM Jabal Nur meninggal dunia), akhirnya  datang ke rumah mempelai wanita, untuk melamar Saimah sebagai tunangan Ahmad Yani. Setelah keduanya terikat dalam bingkai pertunangan, hubungan keduanya terlihat semakin akrab, dalam sepekan mereka menyempatkan diri untuk saling bertemu. Rindupun terobati.

Hari-hari indah yang mereka lalui dalam pertunangan tidaak berlangsung lama, tiga bulan setelah itu, tepatnya awal bulan Oktober 2014, Ahmad Yani pulang ke rumah orang tuanya di pulau Raas, Sumenep, Madura, dan meminta orang tuanya kembali datang ke Bali untuk membicarakan pernikahan dengan keluarga Saimah. Meski hasrat Ahmad Yani sempat ditentang ibundanya dan disarankan agar tidak cepat-cepat menikah, namun niatnya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.

Orang tua Ahmad Yani akhirnya mengalah dan mendatangi keluarga Saimah di Bali, untuk membicarakan hari pernikahan putranya. Orang tua dua mempelai akhirnya sepakat menentukan hari pernikan putra-putri mereka, Selasa (7/10/2014) sekitar pukul 08.00 Wita.

“Sejak putri saya berkenalan pada bulan April 2014, 3 bulan kemudian memutuskan untuk bertunangan. Permintaan ini sudah kami turuti. Namun, tiga bulan kemudian kembali minta untuk melangsungkan akad nikah, dan permintaan ini juga kami turuti,” kata H.Mas’ud, orang tua Saimah pada PortalMadura.Com, Minggu (19/10/2014).

Namun upaya orang tua dua mempelai untuk membahagiakan putra-putrinya lewat bingkai perkawinan, tinggal kenangan. Sebab, satu hari menjelang akad nikah dilakukan, Perahu Layar Motor (PLM) Jabal Nur yang mengangkut rombongan pengantin pria tenggelam di perairan selat Banyuwangi. Diduga, karena mesinnya mati dan perahunya menabrak karang hingga hancur berkeping-keping.

Akibatnya, 51 penumpang rombongan pengantin pria terlempar ke laut dan ditelan ombak. Beberapa korban baru ditemukan 2 hari kemudian. Hingga hari ini, Minggu (19/10/2014), 21 penumpang masih mesterius, 8 orang ditemukan selamat dan 22 orang ditemukan meninggal dunia. (Laporan Reporter PortalMadura.Com, Samauddin-bersambung)


Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE