Opini  

Konflik Pemilu dan Ibadah Kebhinnekaan

Avatar of PortalMadura.Com
Konflik Pemilu dan Ibadah Kebhinnekaan
Ilustrasi (Simulasi pengamanan pemilu 2014 di Lapangan Polda Metro Jaya Jakarta, Rabu (29/1)/ Tempo.co)

Bagi saya, politik tidak punya kemampuan untuk membuat seseorang tenang. Seorang politisi misalnya, harus selalu punya waktu untuk bersilat narasi dan adu persepsi, kapanpun dan di manapun. Politik mengharuskan seseorang untuk selalu awas, waspada, tanpa jeda.

Sebatas yang saya tahu, dalam setiap perhelatan pemilu, kedamaian selalu berpotensi terganggu. Keakraban terancam jadi topeng dan benalu. Senyum riang menjadi senjata untuk menipu. Dan sejak saat itu, hidup tidak lagi syahdu.

Saat genderang pemilu dimulai, silat narasi sudah pasti terjadi. Adu persepsi tidak bisa dihindari. Bahkan, adu fisik, kadang menjadi pilihan paling masuk akal untuk menyakiti.

Hemat saya, banyaknya kepentingan untuk merebut kekuasaan, membuat semua jenis prilaku buruk menjadi tidak membutuhkan alasan. Kata banyak orang, dalam politik, semuanya sah untuk dilakukan(?)

Ragam perbedaan akan bertebaran. Kadang, perbedaan itu akan dipaksakan bahkan disertai ancaman. Semua yang berada dalam circle politik, berpotensi menyulut konflik. Saat itu, hidup akan terasa semakin pelik.

Karenanya, di tengah kecamuknya politik yang seringkali penuh perdebatan, tidak ada salahnya kita tingkatkan ibadah kebhinnekaan.

Ibadah kebhinnekaan, hemat saya, didasari atas dua hal. Pertama, setiap pilihan berpikir, bersikap dan keputusan yang kita ambil, selalu bersumber dari kesadaran subjektif.

Dalam praktiknya, kesadaran subjektif akan memberikan ruang bagi kita untuk menyadari bahwa ada subjektifitas lain yang sayogyanya kita terima sebagai bahan evaluasi. Bukan sebagai alasan untuk memusuhi.

Keberhasilan dari kesadaran subjetif ini sepenuhnya diukur dari kemauan, kerelaan, dan kemampuan objektif dalam penerimaan diri. Jika tidak, kesadaran subjektif akan menjadi duri yang melukai dan membatalkan ibadah kebhinnekaan itu sendiri.

Kedua, ibadah kebhinnekaan ini harus dirawat dengan kesadaran untuk menerima segala kesalahan dan seluruh kebenaran dengan pandangan yang sama. Saat menerima kebenaran, kita tidak perlu bersikap layaknya bertemu anak emas. Begitupun ketika bertemu kesalahan, kita tidak perlu melawannya dengan perasaan penuh kecemasan. Biasa saja.

Maka, pemilu tahun ini, mari kita niatkan untuk melatih dan meningkatkan ibadah kebhinnekaan. Sebab, keberagaman yang dikandung oleh bangsa ini terlalu besar untuk dirusak oleh kepentingan 5 tahunan.

Jangan sampai kita tertipu oleh kesantunan politik yang sebenarnya membawa kerusakan, polarisasi dan memporak-porandakan persaudaraan. Jangan pula kita dilenakan oleh narasi agresif yang seakan mewakili kebenaran.

Kita, sebagai bangsa yang besar, tetaplah bersikap sedernaha, dan menjadikan ibadah kebhinnekaan ini sebagai kuncinya. Selamat menunaikan ibadah kebhinnekaan. Salam.

Nur Khalis
Ganding, 30 September 2023

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

google news icon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.