PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diprediksi bakal bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada sesi perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Tekanan geopolitik global di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda hari ini.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan ditutup pada rentang Rp 16.900 hingga Rp 16.940 per dollar AS. Prediksi ini menyusul performa positif pada Kamis (26/3), di mana rupiah spot berhasil menguat 7 poin dan parkir di level Rp 16.904.
“Untuk perdagangan besok (Jumat), mata uang rupiah fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp 16.900 hingga Rp 16.940 per dollar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya yang dikutip dari Money.
Baca Juga:
Siap-Siap Ajukan! Kuota KUR BRI Masih Melimpah, Simak Syarat dan Cara Lolos Survei KUR Bulan Ini
Sentimen Global: Geopolitik dan Harga Minyak
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh pengamatan pelaku pasar terhadap proposal de-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Ketidakpastian meningkat setelah pihak Iran membantah adanya jalur negosiasi langsung, yang memicu sikap waspada dari para investor global.
Selain isu diplomasi, sektor energi turut memanaskan situasi. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga menembus 119 dollar AS per barel. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi di Selat Hormuz akibat tensi keamanan yang belum mereda.
Respons Pemerintah dan Ketahanan APBN
Menanggapi gejolak harga energi dunia, Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Pemerintah meyakini Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk meredam fluktuasi harga tersebut.
Meskipun Indonesian Crude Price (ICP) saat ini berada di angka 74 dollar AS per barel—melebihi asumsi awal sebesar 70 dollar AS—pemerintah menilai selisih tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola (manageable).
Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa bauran kebijakan fiskal dan moneter Indonesia terbukti adaptif dalam menjaga stabilitas nasional. Hal ini tercermin dari kemampuan ekonomi domestik yang tetap tumbuh positif di level 4,6 persen meskipun dunia dibayangi risiko resesi.
Disclaimer: Artikel ini disusun sebagai informasi pasar dan bukan merupakan instruksi jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.





