oleh

Lakukan Maksiat Tapi Doa Tetap Terkabul? Hati-hati Jebakan Istidraj

PortalMadura.Com – Sebagai seorang muslim sangat dianjurkan untuk berdoa karena merupakan bentuk komunikasi pribadi seorang hamba dengan Tuhannya baik dalam suasana senang, sedih atau dalam situasi apapun.

Selain itu, doa merupakan inti dari ibadah kepada-Nya. Tanpa doa ibadah menjadi sia-sia, karena doa akan mengantarkan Anda pada keyakinan haqiqi bahwa ibadah Anda akan lebih sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surah Al Mukmin ayat 60. Dan Allah berfirman:  berdoalah kepadaku niscaya akan kuperkenankan Bagimu.”

Hal ini menunjukkan bahwa saat Anda berdoa, maka Allah akan mengabulkan dan doa merupakan bentuk ketidakmampuan hamba sekaligus sebagai jawaban dari Allah bahwa yang sangat berkuasa membebaskan manusia adalah dengan berdoa dengan kesungguhan dan keyakinan.

Ustadz Zein Muchsin menjelaskan bahwa doa pasti dikabulkan, hanya saja waktunya yang ditentukan oleh Allah SWT. “Jika semua doa hamba dikabulkan secara bersamaaan, ibarat doa bersama satu negara meminta pesawat dan Allah kabulkan semua, pesawatnya mau diparkir di mana dan penumpangnya siapa?,” ujarnya.

Tetapi, dia mengingatkan, dalam berdoa haruslah menggunakan etika yang baik yang sesuai aturan-aturan. “Berdoalah kepada rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al A’Raf Ayat 7)

Sementara itu banyak yang mengeluh, berdoa setiap saat namun Allah SWT belum mengabulkan, sementara melihat orang lain yang jarang berdoa dan jarang melakukan ibadah wajib terlihat bahagia.

Ali Bin Ali Thalib berkata, Jika Allah memenuhi doamu bukan berarti doamu yang terkabul tetapi Allah SWT tahu apa yang kita butuhkan. Jika salat itu dimaksudkan rejekinya dilancarkan, ini menjadi hal berbeda, sebab yang tidak salat juga banyak rejekinya.

Rasulullah SAW bersabda, Jika seseorang Allah diperbanyak rizkinya dan tidak semakin dekat kepada Allah, maka ketauhilah bahwa itu Istidraj.

istidraj adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 141) disebutkan, “Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”

Ustadz Zein Muchsin mencontohkan, salah satu bentuk istidroj adalah perilaku korup yang dilancarkan. Dia mengingatkan azab Allah yang pedih pasti akan datang untuk orang-orang yang meninggalkan perintahnya dan melanggar larangannya.

“Istidraj adalah ketika seseorang memaksa kepada Allah agar segera mengabulkan doanya. Korupsi itu adalah istidraj mutlak,” ulasnya. (okezone.com/Desy)

Loading...