Mundur Sebagai Pengelola Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan

  • Bagikan
Madura United Mundur Sebagai Pengelola Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan
Rapat dengar pendapat di Kantor DPRD Pamekasan bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), PSSI dan LSM Gapura (Foto: Marzukiy @portalmadura.com)

PortalMadura.Com, Pamekasan – Manajemen memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pihak yang berwenang mengelola Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, setelah adanya desakan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gapura.

Keputusan tersebut disampaikan saat rapat dengar pendapat di Kantor DPRD Pamekasan bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), PSSI dan LSM Gapura sendiri, dengan pertimbangan menjaga kondusifitas Pamekasan.

“Pamekasan harus tetap kondusif, Pamekasan harus tetap hebat, jangan sampai Pamekasan ini dibingungkan orang yang mengatasnamakan warga Pamekasan. Saya warga Pamekasan, saya lahir di Pamekasan. Saya tidak mau Pamekasan dilihat tidak baik di tingkat nasional,” ujar Direktur PT. Polana Bola Madura Bersatu, Zia Ul Haq, Jumat (31/1/2020).

Menurutnya, tujuan untuk mengelola stadion yang berlokasi di Desa Ceguk, Kecamatan Tlanakan, tersebut adalah membantu menggerakkan perekonomian masyarakat Pamekasan. Terbukti, sejak bermain di bumi Gerbang Salam perekonomian masyarakat meningkat.

Indikasinya, banyak rumah makan berdiri, berdirinya kios-kios di sekitar stadion, bahkan warga sekitar stadion memanfaatkan halaman rumahnya sebagai lahan parkir dalam setiap pertandingan. Tidak hanya itu, hotel berbintang banyak berdiri yang secara otomatis ekonomi masyarakat bergerak.

Baca Juga : Pemain Yang Diterpa Cedera Berangsur Membaik

“Kami sebenarnya hanya ingin membantu meningkatkan ekonomi, karena Pamekasan dari sektor wisata minim, migas minim. Jadi kita gerakkan di bidang wisata olahraga ini. Coba cek ke keuangan (Pemkab Pamekasan, red), mulai tahun 2016 berapa uang yang masuk dari . tidak pernah hutang,” tegasnya.

Namun demikian, pria yang akrab disapa habib ini memastikan bahwa akan tetap bermain di Pamekasan dengan sistem sewa. Yakni Rp 25 juta setiap pertandingan dan pajak tontonan sebesar 16 persen sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda).

“Karena stadion ini tidak boleh kita tinggalkan, kalau ada perusahaan yang mau mengelola silakan. Cuman saya minta tolong selamatkan stadion kebanggaan masyarakat Pamekasan. Save SGRP,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.