oleh

Manajemen Sampaikan Maaf, Madura FC Menuju Liga 3, Ini Penyebabnya

PortalMadura.Com, Sumenep – Skuat Madura FC akhirnya harus melorot ke Liga 3 musim depan.

Manajer Madura FC Januar Herwanto menyampaikan permohonan maaf kepada warga Madura.

“Mewakili manajemen, kami minta maaf bagi warga Madura. Madura FC tidak mampu bertahan di liga 2,” katanya, Selasa (22/10/2019).

Ia mengemukakan, perjalanan Madura FC di Liga 2 2019 penuh fluktuasi selama laga dan situasi berpihak pada sisi ‘non teknis’.

“Seperti itulah sepakbola kita, dan kita memang tidak mau larut pada kondisi seperti itu. Konsekuensinya, karena persiapan tim mepet sehingga tidak tangguh seperti tahun lalu,” ujarnya.

Bagaimana dengan Liga 3?. “Itu keputusannya ada di pihak owner. Kita belum nanyak itu,” jelasnya.

Merawat Kebenaran

Januar Herwanto menyampaikan, selama pihaknya mengurus sepakbola, otomatis kualitas hidupnya menurun.

“Karena saya tidak bisa larut seperti yang dilakukan lawan-lawan itu. Artinya, seperti yang kita pernah sampaikan sebelum-sebelumnya,” katanya.

“Kita wajib merawat kebenaran dalam posisi apapun. Itu berat di sepakbola, kita yang penting menang dan kalah secara bermartabat. Resikonya ya seperti ini,” sambungnya menegaskan.

Pihaknya menyadari, pada tahun lalu Madura FC menjadi mester flower hingga menularkan KLB di PSSI.

“Dan ini memang sudah diprediksi oleh para analis sepakbola, kita akan dihabisi di fase tahun ini. Ya, ini resiko. Ini pilihan,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata dia, jika Madura FC mau mengikuti persoalan ‘non teknis’ anggaran Laskar Jokotole cukup banyak, namun pihaknya tidak memilih jalur tersebut.

“Kita berfikir sepakbola Indonesia kedepan. Kita minoritas, tapi menimal tim kita tidak melacurkan diri untuk menang,” tandasnya.

Ia mengaku banyak dihubungi oleh para calon ketum PSSI. “Ya, minta bincang-bincang, saya sampaikan bahwa titik awal ketidak suksesan Timnas karena wasit kita,” katanya.

Menurutnya, Liga Indonesia untuk mencari bibit agar bisa masuk Liga 1. Lalu ke Timnas, tapi prosesnya bagaimana? terjadi permainan yang tidak sportif.

“Contohnya, pemain naturalisasi umur 38 tahun, masih menjadi straker timnas. Gagal berarti PSSI,” tegasnya.

Selama ini, banyak tawaran yang diterima pihaknya, baik pelatih atau pemain naturalisasi untuk memperkuat tim, tapi Madura FC menolak.

“Karena kita tidak hanya egois menang dan juara, tapi kita lebih berfikir sepakbola Indonesia. Itu mungkin bedanya, yang berfirikir seperti ini siapa?. Resikonya ya seperti ini. Kita terima,” ujarnya.

“Awal titik kegagalan kita ya wasit. Wasit merasa aman, ya pengawas. Ada desain besar dari bawah sampai ke atas,” tudingnya.

Ia menduga, mayoritas para manajer klub berfikir sangat sederhana yakni bagaimana klubnya aman, tapi tidak pernah berfikir bagaimana sepakbola Indonesia.

“Mungkin para manejer itu punya pengalaman pahit masa lalu, makanya tidak berkoar-koar,” pungkasnya.(*)

Baca Juga :

Penulis : Hartono
Editor : Hartono
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE