Wisata  

Masjid Jamik Sumenep Sebagai Wisata Religi Kebanggaaan Sumenep

Avatar of PortalMadura.com
Masjid-Jamik-Sumenep-Sebagai-Wisata-Religi-Kebanggaaan-Semenep
Ilustrasi (suaramasjid.com)

PortalMadura.Com – Bagi orang Sumenep mustahil rasanya jika tidak pernah tahu dan datang ke wisata religi yang satu ini. Masjid jamik Sumenep selalu menjadi masjid yang tidak pernah sepi jamaah, setiap pelaksanaan shalat lima waktu masjid ini selalu di penuhi oleh ratusan jamaah, mulai dari masyarakat sekitar dan pengunjung dari berbagai daerah.

Dilansir dari simas.kemenag.go.id, Kamis (15/4/2021) Masjid jamik Sumenep ini juga di kenal dengan nama Masjid Agung Keraton Sumenep dan merupakan salah satu masjid tua di Indonesia yang memiliki makna filosofis di setiap detail dan sejarah bangunannya.

Masjid Agung Keraton Sumenep ini terletak tepat dipusat kota Sumenep, tepatnya di barat alun-alun kabupaten Sumenep yang merupakan kabupaten paling timur di Pulau Madura, Jawa Timur.

Masjid Agung Sumenep termasuk pada 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid Jamik Sumenep saat ini menjadi salah satu aset di Pulau Madura khususnya Kabupaten Sumenep. Masjid ini dibangun Pada pemerintahan Panembahan Somala, Penguasa Negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan Kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango.

Baca Juga:  Serangan Virus, Petambak Udang di Sumenep Merugi

Menurut catatan sejarah Sumenep, Pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi. kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 8 tahun. Dulunya bangunan ini merupakan salah satu bangunan pendukung Karaton, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga Karaton dan Masyarakat, masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun oleh keluarga keraton, dimana sebelumnya kompleks masjid berada tepat di belakang keraton yang lebih dikenal dengan nama Masjid laju yang dibangun oleh Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI. Namun sekarang masjid ini dijadikan sebagai pusat ibadah masyarakat Kabupaten Sumenep.

Bangunan masjid ini terdapat gabungan berbagai unsur budaya, diantaranya kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Madura. Pola ekletis ini seperti merepresentasikan keberagaman etnis yang tinggal di pulau penghasil garam tersebut.

Baca Juga:  Bulan Muharam, Prasasti Berisi Wasiat Panembahan Sumolo Dikembalikan ke Tempat Semula

Pada Bagian utama masjid dilengkapi tujuh pintu, masing-masing berukuran tiga meter. Enam jendela yang masing- masing berukuran dua meter membuat pencahayaan alami dari luar dapat menerobos ke dalam masjid. Dengan begitu, suasana dalam ruang lebih sejuk.

Keistimewaan lain dari Masjid Agung ini terlihat pada bagian mihrab yang diapit oleh dua relung dan dilapisi keramik Cina. Ukiran pahat batu berupa bunga berwarna merah dan emas semakin mengentalkan nuansa Cina.

Pintu gerbang tersebut salah satu karya Lauw Phia Ngo yang banyak memberi pengaruh pada bangunan masjid secara keseluruhan. Oleh karennya, mengunjugi Masjid Agung Keraton Sumenep merupakan wisata religi yang dapat memuaskan dahaga sejarah.

Baca Juga:  Polwan Polres Sumenep Gelar 'Police Goes To School' ke Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.