Memahami Makna Kota Pusaka Sumenep

Avatar of PortalMadura.com
A Busyro Karim
Bupati Sumenep, A. Busyro Karim (@kominfosumenep)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Sumenep – Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, disebut-sebut sebagai Kota Pusaka. Namun, tidak sedikit yang berbeda memaknai kota Pusaka dimaksud.

Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman, dan Cipta Karya telah usai menyelenggarakan Festival Kota Pusaka.

Even yang dihadiri sejumlah pimpinan kota yang menyandang Kota Pusaka di Indonesia itu, juga digelar Seminar Kota Pusaka dan pameran serta pasar seni kreatif, 22 November 2018.

Bupati Sumenep A Busyro Karim berusaha menjelaskan makna kota Pusaka itu sendiri. Ia menyebutkan bawah Kota Pusaka adalah yang di dalamnya terdapat kawasan cagar budaya dan atau bangunan cagar budaya yang memiliki nilia-nilai penting bagi kota.

“Bagi pemerintah daerah tentu menempatkan penerapan kegiatan penataan dan pelestarian Pusaka itu sebagai strategi utama dalam pengembangan kota,” tegas Busyro.

Menurutnya, pengertian dan jenis Kota Pusaka sangat luas. Misalnya, Pusaka Ragawi, contohnya adanya masjid Jamik dan Keraton Sumenep.

“Kalau tak Ragawi, contohnya desa keris yakni Desa Aeng Tongtong,” ujar Buysro.

Ia mengemukakan, dalam proses pelestarian Kota Pusaka bukan pada romantisme masa lalu dan bukan hanya pelestarian Kota Pusaka, tetapi bertujuan membangun masa depan yang berkelanjutan yang menyeimbangkan berbagai peniggalan sejarah.

Baca Juga:  Harga Emas Antam dan UBS Hari ini Kamis 30 Juni 2022

Sumenep memiliki peran penting dan posisi strategis dalam perkembangan industri serta perekonomian pada masa pemerintahan Belanda atau VOC, yaitu menjadi salah satu pusat industri garam terbesar di Indonesia.

“Pabrik dan kantornya ada di wilayah Kalianget. Bangunan itu masih ada dan disebut sebagai kota tua,” jelasnya.

Keaslian Kota Pusaka Sumenep, tergambar pada keraton, masjid jamik Sumenep dan kawasan Asta Tinggi serta kawasan industri garam Kalianget yang menjadi satu-kesatuan kawasan Sumenep.

“Itu semua, harus menggairahkan generasi penerus saat ini untuk menggapai kemajuan sebagaimana tergambar dalam masa-masa kemajuan masa lalu,” tandasnya.

Dalam menjalankan sejarah, para generasi muda hendaknya dapat menorehkan sejarah baru untuk anak-anak cucu atau kader bangsa di masa mendatang.

Sumenep memiliki sejarah yang sangat panjang, mulai dari sejarah tanah leluhur pulau Madura, masa pemerintahan kerajaan Sumenep hingga masuknya Belanda melalui VOC ke Sumenep

Rentang sejarah itu meninggalkan dan memberikan nilai-nilai serta situs sejarah yang berharga bagi perkembangan Kabupaten Sumenep.

Masa pemerintahan kerajaan Sumenep dimulai sejak Arya Wiraraja memimpin, 31 Oktober 1269 dengan pusat pemerintahan di wilayah Kecamatan Batuputih.

Baca Juga:  Curi Motor, Warga Kecer Dasuk Ditangkap Polisi Sumenep

Menurut Busyro, Sumenep layak menyandang The Soul Of Madura sebagai City Branding Kabupaten Sumenep, yakni jiwa daya tarik Madura.

Hal itu tercermin dengan potensi yang dimiliki, antara lain, kerajaan pertama di Madura adalah Sumenep, kota industri pertama di Madura adalah kota garam Kalianget.

“Selain itu, Sumenep memiliki Bandara Trunojoyo. Itu juga pertama di Madura. Pulau Giliyang memiliki kadar oksigen tetinggi kedua dunia,” urainya.

Bahkan yang tidak ada di daerah lain, adalah jumlah pengrajin keris terbanyak dunia hingga mencapai 640 orang lebih. “Semua itu milik warga Sumenep, sebagai Kota Pusaka,” pungkasnya.(Hartono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.