oleh

Mendirikan Ponpes Warga Kurang Mampu, Malah Dikirim Orang Gila (Edisi 2)

PortalMadura.Com, Sumenep – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Bajigur, Dusun Neggara, Desa Tenonan, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur yang dirintis oleh KH. Abdurrahman akhir tahun 1995, awalnya memang untuk masyarakat yang kelas ekonominya menengah ke bawah.

Keinginan tersebut diperkuat dengan kondisi lingkungan masyarakat setempat yang membutuhkan pendidikan gratis. Kesadaran terhadap pendidikan pun masih rendah, sehingga kehadiran pondok pesantren yang juga menjalankan pendidikan formal sangat dibutuhkan.

Kala itu, anak-anak usia sekolah dilingkungannya masih dibebani dengan pekerjaan yang berat, semisal bertani. Peluang untuk menempuh pendidikan yang cukup tersita dengan pekerjaan yang belum waktunya dikerjakan oleh anak-anak. Maka kehadiran pondok pesantren akan mampu memotong keterbelakangan anak-anak kampung.

“Keinginan saya sederhana, bagaimana anak-anak yang masih waktunya mencari ilmu tetap bisa mencari ilmu. Solusinya sederhana, harus ada lembaga pendidikan yang tidak membebani orang tuanya. Dengan niat ibadah, saya rintis pondok ini. Awalnya, hanya satu, dua, tiga orang santri,” kata KH. Abdurrahman pada PortalMadura.Com.

Dalam perkembangannya, pondok pesantren yang ada di bukit Dusun Neggara ini, malah dikenal sebagai pondok atau penyembuhan orang gila. Kemasyhuran pondok pesantren ini mulai terkuak setelah ada tamu dari Slopeng (pesisir utara kota Sumenep) membawa keluarganya yang sedang sakit ingatan.

Dengan ijin Allah, orang yang sakit ingatan itu mampu disembuhkan oleh sang pengasuh. “Tamu itu, datang ke sini (Pondok Al Bajigur, red) awal tahun 2006. Saya juga tidak merasa mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan orang yang sakit ingatan, tapi keluarganya tetap meminta untuk mendo’akan. Alhamdulillah, Allah meridlai dan sembuh,” ujarnya.(Moh. Hartono – bersambung)


Komentar