Mengenal Sosok Moh Monib, Pengasuh Ponpes Anak Yatim Kelahiran Bangkalan Yang Kini Ikut Politik Praktis

Avatar of PortalMadura.com
Moh Monib bersama santrinya
Moh Monib bersama santrinya (Foto. Istimewa)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Bangkalan – Stigma negatif bahwa politik hanya bagi kalangan tertentu yang memiliki modal uang untuk menguasai orang banyak dan memilihnya untuk kemudian mengantarkannya ke panggung politik perlu dibuang jauh-jauh.

Sebab, pada hakekatnya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam dunia politik praktis. Tetapi, modal utama yang harus dimiliki adalah jiwa kepemimpinan, jujur dalam kesederhanaan serta pengetahuan yang mumpuni.

Sifat inilah yang terlihat dan tertanam pada sosok pria yang lahir di Kranggan Timur, Galis, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Ia adalah Moh Monib yang pendidikannya di tempuh dari SD, Tsanawiyah hingga SMAN 1 Bangkalan (SMANSA).

Moh Monib yang dibesarkan dilingkungan keluarga agamis, tentu nyantri adalah sebuah hal yang wajib ditempuh untuk memperluas pengetahuan agamanya. Ia pun nyantri di Demangan Barat, Bangkalan.

Tiap malam Jumat, sebagaimana santri pada umumnya, Moh Monib juga ngalap berkah di makam Mbah Kholil Martajasah, Bangkalan.

Selama ngalap berkah, tidak hanya membaca Surat Yasin, tapi harus menghafalkan kitab Alfiyah (Al-Khulasa al-Alfiyya). Sebuah kitab yang berisi syair tentang tata bahasa Arab dari abad ke-13. Kitab ini ditulis oleh seorang ahli bahasa Arab kelahiran Jaén, Spanyol, bernama Ibnu Malik.

Ngalap berkah di makam Mbah Kholil Martajasah bagi Moh Monib bukan sekedar ngalap, melainkan melanjutkan perjuangan kakeknya, KH. Zayyadi yang nyantri dan berguru pada Mbah Kholil. Kakek Moh Monib ini masih seangkatan dengan KH. As’ad Syamsul Arifin, Sukerejo, Situbundo.

Berbekal ilmu pengetahuan yang didalami selama di Bangkalan, Moh Monib memutuskan untuk melanjutkan ke Pondok Pesantren Modern Gontor. Di pesantren Modern Gontor, Moh Monib mengenyam pendidikan tinggi (S-1) pada jurusan Ushuluddin-Perbandingan Agama dengan judul skripsi “Pemikiran Imam al Asy’ari tentang Sifat Wajib 20“.

Baca Juga:  Pemasangan Lampu Panel Surya, Pengabdian Mahasiswa UTM

Moh Monib tidak lantas berhenti usai menyandang gelar S-1. Ia melanjutkan pendidikan S-2 di Paramadina dengan tesisnya berjudul “Khutbatul Wada’ Rasul sebagai Tiang Pancang Deklarasi HAM Universal Pertama di Dunia“.

Kiprah Moh Monib

Saat ini, selain aktif sebagai aktivis lintas agama, Moh Monib juga berstatus dosen studi agama-agama di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta.

Moh Monib yang dibesarkan di lingkungan pondok pesantren, kini telah mendirikan pondok pesantren khusus anak yatim dan warga kurang mampu.

Pesantrennya diberi nama Fatihatul Quran, beralamat di Kampung Pok Tua, Pabuaran Kemang, Bogor, Jawa Barat.

Politik Praktis

Moh Monib mempunyai cita-cita dan keinginan besar untuk kemenangan dan kemajuan Islam. Jalur yang dipilihnya adalah ikut serta dalam dunia politik praktis.

“Saya ingin kemenangan umat Islam dengan populasi yang besar ini, Islam jadi rahmat, berkah bagi rakyat, bangsa dan manusia. Kemenangan Islam adalah kemenangan nilai-nilai kemanusiaan,” kata Monib sapaan akrabnya, pada PortalMadura.Com, Rabu malam (1/8/2018).

Ia terjun ke dunia politik praktis mempunyai tujuan besar yakni akan memperjuangkan kemajuan pendidikan umat dan pesantren sebagai benteng Islam.

“Pesantren adalah nafas kehidupanku. Politik adalah wasilah menyukseskan gerakan sosial-keagamaan yang saya lakukan. Dan pesantren adalah ladang pengabdian pada Allah lewat perjuangan dan pelayanan pada umat,” tandasnya.

Baca Juga:  Menko PMK Kunjungi Unija, Tanam Pohon Wujud Implementasi GNRM

Maka menurutnya, hal utama yang mesti disadarkan pada umat bahwa Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI adalah wakaf kebangsaan umat yang harus dibela. “Ini harga mati,” ungkapnya.

Karena itu, ia bertekad dan membangun komitmen diri serta menyatakan siap mengabdi pada umat dan pesantren.

Cinta PDI Perjuangan

Berbekal keyakinan, pengalaman dan sejarah, Moh Monib memutuskan memilih PDI Perjuangan sebagai kendaraan politiknya.

Ia sudah aktif di PDI Perjuangan sejak 3 tahun terakhir. Kecintaannya terhadap PDI Perjuangan berawal dari membaca buku biografi Soekarno “Penyambung Lidah Rakyat, Cindy Adams”.

“Karena partai ini memiliki akar sejarah dan ideologi yang kokoh serta kuat pada pemikiran Soekarno, yaitu sintesa keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Maka saya memilih bergabung dengan PDI Perjuangan,” katanya.

Bukti kecintaannya terhadap PDI Perjuangan dan ingin membuktikan cita-citanya, maka Moh Monib akhirnya memutuskan untuk ikut serta sebagai calon legislatif DPR RI pada Pemilihan Legislatif 2019.

Ia memilih daerah pemilihan (Dapil) Madura sebagai tempat lahir dan dibesarkan.(Hartono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.