Merindukan KH. A Busyro Karim

  • Bagikan
Merindukan KH. A Busyro Karim
Hartono & KH. A. Busyro Karim

Oleh: Hartono*

Sejatinya amanah kepemimpinan sangatlah berat. Beban dan tanggung jawab berada di pundaknya untuk dikelola secara baik dan benar.

Secara fitrah, memang setiap insan yang lahir ke dunia ini memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin. Pada skala keluarga, bapak akan menjadi imam bagi keluarganya.

Begitu pun seorang ibu, berperan sebagai manajer operasional rumah tangga. Anak-anak juga memiliki tanggung jawab dan pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri.

Skala kepemimpinan tersebut akan meningkat pada level masyarakat, organisasi, perusahaan hingga sebuah tatanan pemerintahan dalam sebuah negara.

Sosok pemimpin yang dapat dikategorikan berhasil membawa lembaganya atau organisasi adalah yang selaras dengan visi dan misinya.

Umumnya, yang pintar memadukan leader behaviour dan leader style. Gaya kepemimpinan seseorang atau leader style merupakan cerminan dari karakteristik (leader behaviour).

Bagaimana dengan Sosok KH. A Busyro Karim?

Penulis hanya bisa berkata “Saya merindukan sosok kepemimpinan KH. A. Busyro Karim”. Busyro begitu sapaan akrab yang biasa ditulis oleh wartawan saat menjabat Bupati Sumenep selama dua periode, sangatlah visioner.

Busyro mampu melihat masa depan Sumenep dengan berpegang pada visi yang dibuatnya, Nata Kota, Bangun Desa. Memang benar, tidak semuanya berjalan mulus. Sosok Busyro harus berjibaku dengan keterbatasan perangkat SDM yang begitu-begitu saja.

Alhasil, wajah kota ada perubahan cukup signifikan. Taman jantung kota menjadi lahan hijau dan tak ada lagi PKL. Mereka mendapat tempat yang layak untuk mencari nafkah. Kesan kumuh jadi sirna, terminal lama menjadi sebuah rest area dengan mendesain tata ruang hijau.

Itu catatan kecil yang dapat disaksikan hari ini. Belum usaha lain yang dilakukan agar Sumenep sejajar atau paling tidak satu poin di atas kabupaten yang lain.

Hadirnya, Bandara Trunojoyo dan Bandara Printis di kepulauan adalah wujud nyata menaikkan grade yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Disadari atau tidak, dengan keberanian Busyro melahirkan “Visit Sumenep” juga membawa perubahan besar bagi kehidupan warga Sumenep.

Anak-anak muda yang memiliki jiwa membangun sontak berkarya membuat berbagai macam tempat destinasi wisata. Warung kopi ala mancanegara pun terus bermunculan di setiap penggal jalan.

Penulis masih ingat dengan upaya anak-anak muda Sumenep. Salah satunya, saudara Syaiful Anwar dan Fadel Abu Aufa. Mereka rela membersihkan pulau Gili Labak dari kotoran manusia hingga menjadi tempat wisata yang diidamkan banyak orang.

Ini hanya salah satu contoh, belum lagi anak-anak muda lainnya yang terus berkarya hingga hari ini. Dan Sumenep kini menjadi kota hidup di malam hari. Setiap penggal jalan ada tempat ngopi yang layak buat wisatawan.

Imbas positif dari sebuah kepemimpinan Busyro perlu disambut oleh kepemimpinan hari ini. Memang setiap era kepemimpinan pasti harus bersiap menghadapi perubahan.

Seorang pemimpin juga harus mampu menyesuaikan diri terhadap segala perubahan. Namun, kata kunci “berkesinambungan” janganlah dilepas begitu saja dalam membangun negeri ini. Jika tidak siap, maka keberlangsungan pemerintahan akan terancam.

Misalnya, sebuah perusahaan yang kurang peka menangkap peluang dari media sosial sebagai ajang promosi, maka dia akan tertinggal jauh dengan kompetitornya yang aktif memanfaatkan media sosial di era digital ini.

Sosok Busyro layak dibilang seorang pemimpin yang berintegritas. Ia memiliki pribadi yang jujur dan berkarakter kuat. Dia juga senantiasa bersikap adil dan konsisten dalam menjaga nilai-nilai kebaikan dengan merujuk pada dalil-dalil agama.

Dimana Busyro berdiri dan menyapa, tak lepas dari dalil-dalil agama yang selaras dengan pembicaraannya. Kemampuan dalam berkomunikasi sulit mencari yang sebadan. Saat sambutan, sering lepas dari teks yang dibuat sang konseptor. Tapi, justru lebih aktual.

Salah satunya, pada saat menghadiri Hari Pers Nasional (HPN) 2020 menyebutkan, bahwa dari 114 surah Alquran, di antaranya ada satu surah wartawan. Yaitu, surah ke-78 (An-Naba/Pembawa Berita).

Busyro menyebutkan, wartawan itu membawa berita yang mulia, jika diisi oleh orang-orang yang mulia. Dan dari 6.666 ayat, ada 142 bahasa wartawan dalam Alquran. Busyro menyebutnya, luar biasa profesi wartawan itu.

Penulis memaknai, sosok Busyro mampu menempatkan diri dan selalu aktual apa yang disampaikan. Tidak sekedar bicara kosong tanpa makna. Dalam kepemimpinannya tidak semata-mata sekedar menyelesaikan tugas sebagai bupati, melainkan misi dakwah tak lepas dari jiwa Busyro.

Sosok Busyro Karim yang mampu menempatkan dirinya itu, dan tetap berpegang teguh pada lebel sebagai tokoh kiai atau pengasuh pondok pesantren adalah sosok pemimpin yang menjadi idaman banyak pihak. Sebab, dari sinilah aura kesejukan akan lahir. Bukan hasil polesan untuk disejuk-kan.(**)

*Penulis : Wartawan Sumenep

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.