oleh

Miliki Nilai Sejarah, Jalan Terpendek di Sumenep Tak Disadari Warga

PortalMadura.Com, Sumenep – Jarang terdengar tentang sejarah penamaan jalan di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Salah satunya yang tidak disadari oleh sebagian warga adalah Jalan Hayam Wuruk. Secara administratif, Jalan Hayam Wuruk masuk wilayah Kelurahan Pajagalan, Kota Sumenep.

Jalan Hayam Wuruk ini menyambungkan Jalan Pasar 17 Agustus dengan Jalan Panglima Sudirman. Lebih mudahnya jalan tembus di sebelah utara Taman Bunga (TB) atau taman adipura.

Jalan ini merupakan jalan terpendek di jantung kota Sumenep yang hanya berjarak 64 meter. Nama Jalan Hayam Wuruk terlihat pada peta google maps.

Sayangnya, penelusuran PortalMadura.Com tidak menemukan referensi asal usul penamaan Jalan Hayam Wuruk tersebut.

Ini berbeda dengan Jalan Hayam Wuruk di Jakarta Pusat yang menggantikan nama Rijswijkstraat sejak 1950-an (republika.co.id/4/12/2015).

Berbeda pula dengan penamaan jalan Hayam Wuruk di tanah Sunda (Bandung) yang memiliki makna khusus (Kompas.com/11/05/2018).

Sedangkan penamaan Jalan Hayam Wuruk di Kabupaten Sumenep sendiri masih menjadi pertanyaan. Kenapa? karena awalnya bukan Jalan Hayam Wuruk seperti yang ada di google maps.

Ketua Ahli Cagar Budaya, Kabupaten Sumenep, Tadjul Arifien R, pada PortalMadura.Com, Rabu (13/5/2020) menyampaikan, bila merujuk pada buku Arsitektur Tradisional Madura Sumenep terbitan tahun 1986 oleh Laboratorium Arsitektur Tradisional FTSP ITS Surabaya, karangan Zein M. Wiryoprawiro, ditulis nama Jalan Lauw Pia Ngo.

Penamaan Jalan Lauw Pia Ngo tentu memiliki sejarah tersendiri bagi warga Kabupaten Sumenep. Sebab, di daerah ini terdapat komplek rumah Lauw Pia Ngo. Dan dulu ada Kelenteng yang menghadap ke arah timur.

Nama Lauw Pia Ngo adalah nama tokoh yang dikenang hingga hari ini. Ia adalah arsitek Masjid Agung dan Keraton Sumenep atau sebagai perancang yang dititah sang raja Sumenep untuk mendesain bangunan dan ragam hiasnya.

“Dalam buku karangan Zein M. Wiryoprawiro tercatat nama Jalan Lauw Pia Ngo. Itu bukti autentik. Yang membahas tentang rumah Lauw Pia Ngo ada pada halaman 121 dan seterusnya,” katanya.

Menurut dia, semua penamaan jalan di Kabupaten Sumenep memiliki makna dan sejarah tersendiri. “Umpama, Jalan Trunojoyo, karena pernah dilewati seorang tokoh Trunojoyo (simpang 4 kota Sumenep ke selatan). Jalan Halim Perdana Kusuma, karena tempat lahir dan rumahnya di sana (simpang 4 kota ke utara),” tegas Tadjul Arifien R.

Ia justru bertanya-tanya dan tidak paham, kenapa Jalan Lauw Pia Ngo diubah menjadi Jalan Hayam Wuruk seperti yang ada di google maps. “Gak nyambung nama jalan itu dengan sejarah,” tandasnya.(*)

Penulis : Lisa Mana L
Editor : Lisa Mana L

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.