Misteri Bukit Patapan Juruan Daya, Tempat Semedi Wali Allah

Avatar of PortalMadura.Com
Misteri Bukit Patapan Juruan Daya, Tempat Semedi Wali Allah
Patapan Juruan Daya (portalmadura.com)

PortalMadura.Com, Sumenep – Pernahkah Anda mendengar nama Gua Patapan atau Bukit Patapan, atau sebutan lainnya ‘Panyepen‘?.

Penyebutan sejumlah nama ini oleh warga setempat seiring dengan kondisi lokasi yang diyani sebagai tempat semedi wali Allah.

Lokasinya berada di Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang berada pada ketinggian 250 meter permukaan laut (mdpl).

Di pintu masuk terdapat papan nama bertuliskan ‘Asta Patapan Pangeran Siding Marga‘.

Penyebutan ‘Patapan’ adalah tempat bertapa. Sedangkan bertapa (yang melakukan) berasal dari ‘tapa’ yang serupa dengan kata Jawa Kuna dan Jawa Tengahan ‘Samadi’ (Jawa Baru Semedi). Warga Madura, umumnya menyebut ‘Panyepen‘ (Patapan) dan ‘nyepe‘ (tapa).

Semedi di antaranya dengan melakukan aktifitas yoga. Kata lain yang dalam hal tertentu serupa arti dengan laku tapa (tapa brata) adalah ‘tirakat‘ dengan mengurangi makan-minum, tidur, mengekang hawa nafsu, dan lainnya.

Patapan Juruan Daya lebih akurat bila disebut berada di perbukitan (bukit), meski ada yang menyebutnya Gua Patapan karena memang terdapat rongga batu yang cukup luas. Secara kasatmata tidak ada rongga atau lubang terusan.

Sebutan Asta merupakan kata yang sering digunakan oleh masyarakat Madura untuk istilah makam keramat. Makam ialah bangunan kubur atau kamar pengkebumian bagi seseorang atau beberapa orang yang meninggal dunia.

Misteri Bukit Patapan Juruan Daya

Keberadaan Patapan Juruan Daya tidak lepas dari sejarah Pangeran Siding Marga (Margo) yang dimakamkan sekitar 200 meter ke arah barat dari patapan.

Makan Pangeran Siding Margo yang diperkirakan wafat tahun 1470-an itu lebih akrab disebut “Buju’ Juruan” oleh warga setempat. Saat ini, Asta Pangeran Siding Margo bernama Raden Fatah.

Sejumlah sumber menyebutkan Raden Fatah merupakan cucu Sunan Kudus dari putranya Pangeran Pakaos. Pada masa hidupnya suka menyendiri pada waktu-waktu tertentu (bersemedi). Konon wali Allah ini bersemedi di bukit Patapan tersebut.

Raden Fatah sendiri dikenal sebagai penyebar agama Islam dan membekali warga setempat dengan bercocok tanam (bertani). Sumber mata air yang digunakan adalah Sumber Kabbuan di Dusun Kapeng, Desa Juruan Laok. Desa tetangga Juruan Daya ke arah Selatan.

Bukit Patapan Juruan Daya juga diyakini mempunyai lubang gaib ke berbagai gua lain yang ada di wilayah Sumenep. Salah satunya Gua Payudan yang terletak di Desa Payudan Daleman, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep yang dikenal sebagai tempat bertapa sebagian Raja-Raja Sumenep, di antaranya Potre Koneng.

Di Bukit Patapan sudah ada bangunan permanen untuk bersemedi. Bahkan, di kaki bukit ada sumber mata air yang disebut Sumur Bulangan. Konon, sumur itu tempat mengambil wuduk Siding Margo.

Patapan Juruan Daya maupun Asta Raden Fatah banyak dikuncungi masyarakat dari berbagai wilayah, khususnya warga Madura yang tersebar di sejumlah daerah di Jawa Timur. Termasuk para musafir dari seluruh nusantara. Mereka hendak ngalap berkah.

Adapun selamatan atau ritual khusus yang dilaksanakan oleh warga setempat, umumnya dalam kurun waktu ke waktu secara singkat yakni mulai pada bulan Jumadal Ula, Jumadats Tsaniyah,
Rajab, Sya’ban dan Syawal. Bahkan pada bulan Syawal dilaksanakan dua
kali selamatan.(berbagai sumber).

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

google news icon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.